Kamen Rider Black Sun

Black Sun kembali. Memanggil Shadow Moon yang disandera. Dan menggiring remaja bernama Aoi Izumi menghadapi perihal mengerikan antara manusia dan kaijin di tahun 2022.

Menamatkan 10 episode Kamen Rider Black Sun ditengah tumpukan deadline semula terasa mustahil. Tapi malah selesai dalam 3 hari. Oh, terima kasih wahai pekerjaan.

Kamen Rider the Series

Gambar diunduh dari website Kamen Rider Official


Kotaro Minami (kiri, diperankan Hidetoshi Nishijima) dan Nobuhiko Akizuki (kanan, diperankan Tomoya Nakamura). Kamen Rider Black Sun dirilis dalam rangka 50 tahun series Kamen Rider dan 35 tahun series Black Sun oleh Toei.

Bagi penggemar tokusatsu, kembalinya Kotaro Minami jelas sangat dinantikan. Kotaro begitu melegenda pada generasi 80-90'an. Anak SD jaman itu sepertinya terbiasa memutar-mutar gerakan tangan seraya mengucap "berubah!". Nostalgic, tapi kitapun merindukan Kotaro yang ikut bertumbuh sesuai usia kita.

Kamen Rider Versi Dewasa

Kamen Rider Black Sun the series menawarkan pengalaman tersebut. Sama seperti kita, Kotaro Minami pun menua. Ia tinggal di sebuah rumah bus dan menutup diri dari sekeliling. Series ini bukan tontonan anak yang sekedar menampilkan Kamen Rider (sebagai simbol kebaikan) melawan Kaijin / Monster (sebagai simbol kejahatan).

Permasalahan yang kompleks dan sangat dekat dengan keseharian menarik simpati kita. Diskriminasi dan sentimen ras, Pemerintahan yang "bermain-main" atas nama kemanusiaan demi keuntungan pribadi, trauma paska perang yang tak bisa ditutup-tutupi sampai anak-anak yang menjadi korban perundungan akibat kekacauan. Semua karena permasalahan manusia dan kaijin yang tak kunjung usai.

Suasana demonstrasi mendominasi series pertama. Ada pendukung kesetaraan antar keduanya, ada pula yang menolak mentah-mentah keberadaan kaijin. Sampai kemudian kita tersadar bahwa Kotaro Minami juga kaijin yang tak menghendaki keberadaan jenisnya.


Tangkapan layar salah satu episode. Adegannya cukup mengandung bawang. Selengkapnya tonton melalui Prime video saja ya. Per episode sekira 40 menitan. Tayang perdana 28 Oktober kemarin.


Berbeda Dengan Versi TV


Kamen Rider Black Sun ini mengambil latar 2022 dan 1973 saat Kotaro dan sahabatnya Nobuhiko Akizuki masih berstatus mahasiswa. Misi 1973 terhenti menyisakan Raja Penciptaan yang sekarat dan menunggu sang pengganti datang. Hingga kemudian Kotaro yang tampak tua dan pincang asyik sendiri dengan rutinitasnya menyuntikan ketamine atau menjadi pembunuh bayaran.

Kali ini targetnya adalah Aoi, remaja perempuan 14 tahun yang berpidato di markas PBB terkait permintaan kesetaraan hidup manusia dan kaijin. Pertemuan Kotaro dan Aoi justru melibatkan mereka dalam suatu relasi yang aneh. Siapa sebenarnya Aoi ?

Ditempat lain, akibat reaksi yang muncul saat pertemuan Kotaro dan Aoi, Partai Gorgom pun merasakan bahwa apa yang mereka nantikan semakin dekat. Nobuhiko yang tengah disandera puluhan tahun pun merasakan energi tersebut, hingga lepas dari belenggu sandera secara fisik.


Profesor Akizuki di salah satu adegan. Melalui ceritanya kita diajak flashback asal muasal Raja Penciptaan dan ras kaijin. Termasuk mengapa harus ada Black Sun dan Shadow Moon dan bagaimana peran Profesor Akizuki dan Minami terhadap kedua anak mereka hingga menjadi kaijin. Dramatis. Bagian ini nggak ditemukan di tayangan serial TV 1987 silam. Beda pokoknya.


Battaman

Pertemuan kembali mereka menjadikan permasalahan manusia dan kaijin semakin meruncing. Kotaro dan Nobuhiko berseberangan pemikiran. Termasuk perihal keberadaan Aoi. Dari sejak ini, Kotaro justru berbalik menjadi pelindung Aoi. Apalagi kemudian Aoi dikejar-kejar partai Gorgom karena ia memiliki Kingstone yang mereka cari.

Semua ini menjadi awal dari seluruh peristiwa dalam kesepuluh seri Kamen Rider Black Sun. Ceritanya yang berat, adegan yang terlampau brutal memang tak cocok untuk konsumsi anak. Dan meskipun hawanya dark, untungnya tak sampai membuat capek.

Melalui series ini kita bisa melihat battaman Kotaro yang kemudian bertransformasi menjadi Black Sun. Tak ada kilatan cahaya dari sabuk seperti yang ditonton jaman kecil sih. Hanya kepulan asap tipis seperti sesuatu yang akan terbakar. Namun justru ini terlihat lebih baik di mata kita yang telah ikutan menua seperti tokoh utama.


Efek spesial ditambah dengan CGI seperlunya, kostum yang lebih dark tapi terkesan realistis, eksyen koreo yang real, serta cerita yang lebih kompleks tapi jelas adalah beberapa hal yang membuat rela 3 hari maraton nonton tapi nggak tega untuk spoiler berlebihan. Tuan dan Nyonya bagaimana ?

Soundtrack

By the way, bagaimana dengan soundtracknya ? Total 62 track digarap Kenta Matsukuma untuk semakin menghidupkan cerita. Keseluruhan track terbagi dalam dua compact disc.

Beberapa scoring yang terngiang ditelinga adalah "Main Theme" yang ikonik. Serta opening theme final series yang sangat-sangat mengobati kerinduan akan masa kecil. Pasti terngiang tuh yang versi Bahasa Indonesia jaman nonton di televisi. Kabarnya album soundtrack ini sudah rilis per awal bulan ini. Kalau lagu tema penutupnya dibawakan Chogakusei yang berjudul 'Did You See the Sunrise ?'

Overall keinginan untuk bernostalgia dengan cerita jaman bocah adalah tak terealisasi. Tapi cerita baru dan tampilan baru Ksatria Baja Hitam a.k.a. Kamen Rider Black Sun cukup menarik.

Kita lupa kok untuk bernostalgia karena keburu larut dalam alur cerita. Sampai kemudian Kotaro dan Nobuhiko melakukan Henshin barulah kita ngeh jika kita menonton series ini karena hendak mengulang masa kecil.

Benar juga jika kenangan masa kecil itu tak bisa kita ulang. Seandainya ada kesempatan menemui kondisi serupa itu, pemikiran kita yang telah berubah tak akan sukses membuat semua jadi benar-benar berulang.

Komentar

Popular

Funiculi Funicula

Mau Berbagi Suami (Lagi) ?