Funiculi Funicula

Teko berwarna perak. Kopi yang pekat. Dan suasana tempat yang tak berubah dari masa ke masa. Itu clue tempat dalam novel ini.

Kedai Kopi Misterius

Lembaran halaman demi halaman novel terjemahan mulai bergulir. Belum juga seperempat bab, eh sudah ingin ke toilet. Inilah yang kerap terjadi jika menghabiskan kopi terlalu banyak. Saat menengok seisi ruangan guna mencari dimana tempat untuk bisa mengendurkan saluran kemih, tampak dua orang dibelakang tampak sibuk dengan gelasnya masing-masing.

Sambil melirik ketiga jam dinding yang semuanya beda angka, terlihat muka-muka menanti sebuah kursi di salah satu sudut kafe yang misterius. Kafe Funiculi Funicula.

Novel berjudul Funiculi Funicula (Before The Coffee Gets Cold) karya Toshikazu Kawaguchi. Versi terjemahannya diterbitkan Gramedia setebal 224 halaman yach.

Novel vs Based on Novel

Jika disuruh memilih versi novel atau film, Nyonya Manten belum memutuskan mana yang favorit. Tapi harus diakui, kali ini agak berbeda dari kebiasaan. Nonton filmnya terlebih dulu sebelum novel terjemahan sampai di tangan. Meski terbalik, namun kedua produk Negeri Matahari Terbit ini dapat dinikmati dengan hawa yang berbeda.

Beberapa kali di awal halaman novel best seller karya Toshikazu Kawaguchi, benar-benar dibuat dibuat merinding pada tokoh yang jadi ilustrasi pembuka diatas. Perasaan ikut terburu akan kembalinya Si Mbak pembaca novel berbaju putih dari toilet. Dalam film, Si Mbak memang misterius tapi justru terkesan begitu baik. Mungkin hal itu juga yang membuat "kepulan asap" dalam novel berubah menjadi "gelembung air" dalam film, saat orang-orang meminum kopi di mejanya.


Salah satu adegan dalam Cafe Funiculi Funicula (2018), film adaptasi novel Funiculi Funicula. Dibintangi Arimura Kasumi sebagai Kazu, yang tugasnya meracik dan menuangkan kopi untuk melintasi ruang dan waktu.



Funiculi Funicula terpusat pada 4 kisah utama dimana tokohnya saling bersinggungan di dalam kafe. Mereka adalah sepasang kekasih, suami-istri, kakak-beradik dan hubungan mother-daughter yang menyentuh.

Sebagai pembuka novel, romansa Fumiko-Goro jauh lebih manis tergambar dibandingkan dalam film. Meski sebenarnya dalam film, karakter keduanya justru terasa lebih natural seperti romansa orang-orang pada umumnya. Tidak berlebihan.

Selanjutnya kisah Fusagi-Kotake tidak banyak berubah. Kecuali penokohannya yang dibalik. Whatever. Intinya akhir surat yang menuliskan "...meskipun ingatanku hilang, aku ingin kita hidup bersama sebagai pasangan..." (page 111) tetaplah hal manis yang mampu meluncurkan bulir bening di mata.

Cerita Hirai bersaudara juga tersaji dengan elegan di visual. Sayang gaya slengean si kakak dalam novel tidak tereksplore disini. Padahal pas baca novelnya terlintas sosok Awkwafina berperan sebagai Yaeko Hirai.

Keseluruhan cerita saling berkait dengan suasana di dalam kafe miliki keluarga Tokita. Nagare dalam film tampaknya terkesan lebih ganteng dibanding dalam penokohan novelnya. Jadi berpikir mengapa tidak jadi Kei saja ya disitu. Eits, tapi memang tokoh Kei ini tidak muncul dalam film. Ohohoho....

Dalam film, cerita yang dialami Kei dalam novel dilimpahkan Kazu, sepupu Nagare. Tenang, di kedua versi tugas Kazu memang menuangkan kopi khusus guna mengantar ke perjalanan waktu. Namun bedanya dalam novel peran Kazu tidak terlalu sentral. Tetap saja ia dengan dingin berucap "habiskan, sebelum kopinya menjadi dingin" pada kalimat penutup novel. 

Disini, hasil akhir cerita jadi berbeda. Dalam novel sampai akhir halaman, Nyonya Manten masih dibuat bertanya-tanya tentang nasib si Mbak hantu yang entah masih nongkrong di kafe atau ikut menghilang ke Hokkaido bersama Kazu dan Nagare di masa depan. Sementara pada film, Kazu justru membuat kita jadi mengerti mengapa Mbak baju putih itu berada disana.

Meski berbeda, namun akhir cerita dalam novel dan film ini seperti sebuah pertanyaan dan jawaban. Seandainya saja ya, novel terjemahan di Indonesia (2021) muncul sebelum filmnya (2018) mungkin gregetnya akan jauh lebih terasa.


Komentar

Popular

Mau Berbagi Suami (Lagi) ?