Film survival "Thirteen Lives"

Film "Thirteen Lives" menyuguhkan proses evakuasi 12 siswa klub sepakbola "Wild Boars" dan pelatihnya yang terjebak di dalam Gua Tham Luang, Thailand akibat badai monsun yang datang tiba-tiba.

Dari Kisah Nyata

Tuan dan Nyonya ingat bukan jika 4 tahun silam pernah ada kejadian anak-anak yang terjebak banjir saat berteduh di Gua Tham Luang ? Peristiwa 23 Juni - 11 Juli 2018 itulah yang diangkat melalui tangan dingin Ron Howard menjadi film berjudul "Thirteen Lives" yang rilis medio kedua tahun ini.

Tham Luang itu gua karst serupa terowongan didalam gunung yang dipenuhi stalaktit dan stalakmit. Ekstrimnya kondisi gua begitu berliku, naik turun dengan tajam serta sempit di beberapa celah. Gua berada di Provinsi Chiang Rai berbatasan dengan Myanmar.


Penyelamatan Epik

Proses evakuasi melibatkan banyak pihak. Dikomando oleh Thai NAVY Seals, para penyelam mahir dari berbagai negara datang sebagai voulenteer. Adalah spesialis penyelam gua asal Inggris, Rick Stanton dan John Volanthen, tokoh center dalam kisah ini. Mereka yang menemukan keberadaan ketigabelas korban pada hari ke-10 pencarian.

Foto diunduh dari instagram Thiteen Lives


Thirteen Lives bukan hanya mengajarkan soal penyelamatan secara teknis namun juga bagaimana besarnya perhatian publik terhadap keselamatan mereka yang terjebak didalam gua. Meski dalam kondisi nyata jauh lebih besar lagi peran yang publik berikan dalam misi ini.

Jejak berita yang terpantau pada kisaran Juli 2018 menyebutkan jika anak-anak dilatih menyelam secara singkat dalam gua. Namun melalui film, baru ngerti nih ternyata mereka keluar dalam kondisi dibius. Rick Stanton dalam sebuah wawancara mengatakan, gambaran dalam Thirteen Lives ini paling mendekati aslinya, kecuali satu hal. Yaitu jarak pandang dalam air yang realitanya adalah nol atau sangat gelap. Rick Stanton memang dilibatkan untuk mengawasi proses pembuatan film ini.


Mengingatkan Mitigasi

Terlepas dari setiap proses yang begitu dramatis dan traumatis, ada catatan bagi orang tua jika mengingat kejadian dalam film. Sungguh kita tidak selamanya bisa memantau kemana anak pergi main. Membekali mereka dengan pengetahuan akan mitigasi bencana mungkin bisa jadi pilihan.

Ya, salah satu keajaiban 12 remaja dapat bertahan hidup karena megikuti ajaran sang pelatih (yang ternyata mantan biksu) untuk bermeditasi dalam gua. Tapi bukankah keajaiban adalah bonus. Usaha tentulah yang utama.

Ajarkan anak untuk mengenal kondisi lingkungan. Apa saja resiko bencana yang mungkin muncul tanpa menakut-nakuti. Kemudian beri pemahaman dan pelatihan apa yang pertama kali perlu dilakukan saat terjadi bencana. Kita bisa mulai dari hal simpel yang mudah dipahami anak. Misal : cara penggunaan listrik dan elektronik yang aman. Kalau menyadari ada yang menyetrum bagaimana mereka mengambil sikap. Minimal ajarkan untuk menjauh dan pakai alas kaki lalu melaporkan ke orang tua.

Nyonya Manten ingat nih obrolan sama Dr. Tus, seorang pengajar asal Banjarnegara yang pernah tinggal di Jepang. Disana anak-anak dari kecil sudah diajarkan bagaimana menghadapi gempa. Simulasipun rutin dilakukan bukan hanya sekali dua kali.

Karena kita tidak mengenal ada materi rutin ini disekolah ada baiknya sebagai orang tua dapat membantu anak-anak mendapatkan ilmu ini dirumah secara berkelanjutan kan. Apalagi kita pun hidup di daerah rawan bencana. Banjir, longsor, tanah bergerak, gempa ada di sekeliling kita.

Eh kenapa tetiba bahas mitigasi sih ? Soalnya film ini memberi kita gambaran nyata bagaimana bencana itu. Memang secara visual jatuhnya jadi Thirteen Lives tidak ramah untuk disaksikan anak-anak. Beberapa adegan terasa melelahkan dan membuat putus asa bahkan untuk orang dewasa sekalipun.

Jadi, tanamkan dulu pelan-pelan tentang mitigasi, baru bisa nonton bareng anak soal bencana yang menimpa di Gua Tham Luang ini. Itupun dengan catatan jangan anak dibawah 13 tahun dan bukan si gampang panik. Ingat ada kode PG-13 tuh. Biar bukan trauma dan ketakutan yang terekam di alam bawah sadar mereka.

Komentar

Popular

Funiculi Funicula

Mau Berbagi Suami (Lagi) ?