Album Jepang Pertama Friedman

Mungkin ini serupa battery fast charging saat kita bermalasan di pagi hari. Seperti judulnya Music For Speeding, kita seolah dituntun untuk lebih (atr)aktif bersama Marty Friedman.

Album Music For Speeding

Diskografi solo mantan shredder Megadeth ini sebenarnya sudah banyak. Tapi kalau mau tahu seperti apa pengalamannya saat bikin aransemen pas pertama kali pindah ke Tokyo, ada di album ini.

Marty Friedman (kini tinggal permanen di Jepang) dikenal sebagai gitaris yang memadukan gaya barat dan timur. Kecintaan Marty pada gaya musik Asia, baik Jepang maupun Taiwan, mengantarnya menjadi seniman bergaya orisinil. Heavy metal a la Barat namun tetap memiliki melody melankolis khas Asia yang magis.

Music for Speeding dirilis pada 2003 dan terdiri dari 13 track, dimana 4 lagu pembuka memang tak mengampuni kita untuk bermalas-malasan. Seperti dibawa ngebut, tidak ada alasan untuk tidak terjaga.

Nyonya Manten mendapatkan album ini dari hibahan sepupu sekitar 7 tahun silam. Makasih Om Aca.


Gimme a Dose membuka rangkaian Music For Speeding dengan genjrengan riff gitar yang menyapa dengan tenang namun tegas. Streching beberapa detik sebelum Marty mengajak kita mendengar jemarinya berlarian di fret.

Dilanjutkan dengan Full Injection Stingray yang ditingkahi permainan dua bassist yaitu Jimmy O'Shea dan Barry Sparks sekaligus dalam satu track. Kemudian dilanjutkan lead cepat Ripped dan It's Not Real.

Setelah semangat berhasil terbakar ritme sedikit melambat di track 5. Tepatnya warna yang berbeda dihadirkan disini. Cheer Girl Rampage. Campuran techno, heavy metal dan sedikit aroma idol menjadikan track ini unik. Khas J-music itu ya di freestyle. Nggak mengkotak-kotak genre.

Ketertarikan Marty terhadap J-Pop membuatnya melepas ketenaran bersama Megadeth dan pindah ke negeri Matahari Terbit. Pertama kali tinggal di Tokyo, Marty belum membawa gitar. Jadi, begitu terbersit melody di apartemen pertamanya, ia bersenandung dan merekamnya. Begitulah Lust For Life tercipta. Entah kenapa berasa sound Brian May "Queen" lekat di lagu ini.

Jelang tiga puluh menit, saatnya mengendurkan kecepatan. Lovesorrow tampil manis dengan orkestra dan sedikit nuansa marching band. Bukan yang teristimewa tapi pilihan di urutan menit yang tepat.

Kembali sedikit menaikan ritme, Nastymachine mengingatkan pada musik-musik game yang dipenuhi unsur techno. Namun adanya permainan bass yang keren dan disko 70'an membuat komposisi makin ciamik.

Bukti lain kecintaannya pada Asia terdengar di Catfight yang menggabungkan musik tradisional Jepang dan Korea dengan riff-riff yang berat.

Diluar etnik Asia, ada juga nuansa latin yang dihadirkan melalui album ini. Corazon de Santiago itu serasa membius. Hangat dan melodius. Terasa menenangkan.

Dilanjutkan dua track yang kembali upbeat yaitu 0-7-2 (coba baca angka ini dalam transliterasi Inggris-Kun'yomi-On'yomi, hehehe...) serta Salt in the Wound yang mengingatkan kita pada Megadeth.

Dan sampailah untuk mengakhiri album ini dengan menghela nafas melalui balada Novocaine Kiss. Selesai ? Seperti belum mau usai. Tapi ini benar-benar track penutup.


Komposisi Album

Album : Music For Speeding
Artis : Marty Friedman
Rilis : 2003
Durasi : 47 menit 09 detik

Tracklist

  1. Gimme A Dose (3:45)
  2. Fuel Injection Stingray (3:27)
  3. Ripped (4:24)
  4. It's The Unreal Thing (4:02)
  5. Cheer Girl Rampage (3:59)
  6. Lust For Life (4:25)
  7. Lovesorrow (4:25)
  8. Nastymachine (4:27)
  9. Catfight (3:56)
  10. Corazon De Santiago (3:50)
  11. 0-7-2 (0:40)
  12. Salt In The Wound (2:02)
  13. Novacaine Kiss (3:47)
Di Indonesia, album ini didistribusikan oleh Alfarecords.

Komentar

Popular

Rilisan Fisik, Masih Minat ?

Funiculi Funicula