Postingan

Rilisan Fisik, Masih Minat ?

Gambar
Selamat menjalani tahun 2026. Sudah lebih dari 10 hari, adakah tren yang menarik perhatian ? Ataukah justru kembali lagi pada kebiasaan ngubek-ubek rilisan fisik karena tertular polah kawan-kawan gen-Z di kantor ? Yes, kita tos dulu Tuan dan Nyonya.  Jenis Rilisan Fisik Dalam beberapa tahun terakhir, kita cukup dimanjakan oleh platform musik digital. Algoritma -nya mampu menyuguhkan genre favorit tanpa perlu repot searching satu per satu. Namun kelamaan, bosan juga. Tidak ada lagi kejutan macam mendengar album kompilasi yang hilang sampulnya.  Kebosanan generasi milenial , ternyata juga menumbuhkan penasaran para gen-Z. Rilisan fisik pun kembali diminati. Mulai dari CD, kaset sampai vynil . Tak jarang nama-nama underrate di masa lalu naik kasta menjadi kultus baru. Selama liriknya sesuai perasaan generasi saat ini.  Bicara tentang rilisan fisik, beberapa format telah dikenal jauh sebelum milenial lahir. Piringan hitam atau vynil jelas bukan barang baru. Benda in...

Sandiwara Sastra

Gambar
Masih di bulan September, belum sepenuhnya terlambat untuk menyampaikan " Selamat Hari Radio pada 11 September (pekan Jalu)" . Sebagai mantan (broadcaster), rasanya tidak perlu muluk-muluk melayangkan harapan. Hanya saja, ada sedikit rindu pada sandiwara radio. Sejarah Sandiwara Radio Menakjubkan bahwa sandiwara radio pernah menjadi primadona hiburan. Bermula sejak 1920'an, ketika siaran regular mulai digagas di dunia barat. Seni opera yang disiarkan langsung melalui gelombang radio dianggap belum mampu menjadi gebrakan. Hingga kemudian tercetuslah ide pembuatan seni media sastra baru, yaitu sandiwara radio. "A Comedy of Danger" ditayangkan pertama di The British Broadcasting Corporation (BBC) pada 1924. Sandiwara ini mengisahkan tentang orang-orang yang terjebak dalam tambang batu bara Wels. Masyarakat yang sudah mulai terbiasa mendengarkan informasi terbaru sepertinya langsung relate dengan isu sosial yang diangkat melalui sandiwara tersebut Keunikan sandiw...

Jegingger

Gambar
Seorang perempuan rambon (keturunan campur) Jawa - Jepang bernama Lasiyah mendapat julukan Jegingger . Dalam bahasa Indonesia, disebut sebagai Bekisar Merah. Kisah berlikunya di kaki Gunung Slamet mengantarnya ke ibu kota yang penuh rahasia .  Alih Bahasa Jegingger merupakan judul novel alih bahasa Bekisar Merah karya Ahmad Tohari . Meski bisa menuturkan bahasa ibu Banyumasan, ternyata tidak mudah untuk memahami dalam versi novel. Apalagi, corak dialek ini cukup berwarna. Novel Jegingger ini diterbitkan Yayasan Swarahati Banyumas pada tahun 2010. Ukurannya cukup besar 18 x 26 cm dan lumayan berat karena menggunakan hard cover . Dengan setebal 266 halaman, novel ini menjadi unik karena faktor bahasa penyampainya. Jegingger atau Bekisar Merah Edisi Banyumasan sebenarnya selesai ditulis pada November 2006. Terbitan 2010 ini Nyonya Manten peroleh usai menghadiri suatu seminar bertema Bahasa Penginyongan Seperti halnya Bekisar Merah, novel ini bercerita tentang Lasi dan kehidupan aw...

Detective Conan VS Theme Song

Gambar
Sebagai penikmat Detective Conan sejak bocah, perhatian tak lagi fokus pada kasus dalam cerita semata. Lagu tema juga sayang untuk dilewatkan. Tak sekedar penanda penayangan, lagu-lagu tersebut adakalanya menjadi clue sederet cerita. Diluar main theme Detective Conan karya Katsuo Ohno yang sangat legendaris sejak 1996, serial ini memiliki puluhan opening dan closing theme. Berlaku untuk serial , film , kompilasi hingga ova . Namun dari semua ada beberapa nama yang langganan nih sebagai pengisi lagu tema Conan. Siapa saja ya ? 1. Mai Kuraki, Solois Pemegang Rekor Bergenre pop dan R’nB, penyanyi asal Jepang ini telah merambah pasar Amerika sejak 1999. Berkaitan dengan Case Closed, Kuraki adalah pemegang rekor dunia Guinness untuk menyanyikan lagu tema terbanyak yaitu 21 lagu dalam sebuah serial animasi pada 2017. Hampir semua lagunya ini meraih peringkat 7 besar di tangga lagu Oricon. Gambar diunduh dari site milik Detective Conan World Kuraki aktif mengisi lagu tema Detective C...

Eka Sapta 3rd Generation

Gambar
Senada namanya. Mereka memang bertujuh saat menyatukan kreativitas dalam bermusik. Membentuk kelompok bernama Eka Sapta . Mewarnai blantika musik tanah air pada 1963 sampai 1975. Jelas sudah pasti tidak njamani. Beruntung album generasi ketiga mereka pernah dirilis di jaman Nyonya Manten. Berjudul Eka Sapta  : A Musical Journey of 3 Generations yang diproduksi Musica Studio's  pada 2008. Dimotori Yamin Musica Terbentuk pada 1 Juni 1963. Dibawah pimpinan (dbp) Sapta Tunggal . Dengan personel : Bing Slamet (vokal), Muljono (piano), Benny Mustafa (drum), Darmono (vibraphone), Ireng Maulana (gitar), Itje Kumaunang (gitar) dan Idris Sardi (biola, bass). Kabarnya Idris Sardi gabung belakangan setelah diajak Bing. Kelompok ini didukung Yamin "Ceng Li Widjaja" pemilik toko elektronik Eka Sapta. Bukan sekedar toko namun juga sekaligus distributor rekaman. Jadilah Eka Sapta menjadi nama band tersebut beriring niat Yamin Widjaja membentuk perusahaan rekaman sendiri.  E...

Nopia, Kudapan Manis Hasil Akulturasi

Gambar
Seperti halnya telur. Bentuknya lonjong dan berwarna putih. Namun dari wangi manisnya, sangat meyakinkan bahwa ini adalah kudapan. Kue. Namanya N-O-P-I-A . Please , jangan berpura salah dengar menjadi Novia seperti kebiasaan jokes bapak-bapak loh ya. Nopia Kue Khas Banyumasan Dilihat dari namanya, penganan ini termasuk hasil akulturasi budaya lokal dengan Tionghoa. Dalam bahasa Hokkien kan pia artinya kue. Jadi langsung keinget kan sama kue bernama bakpia, sopia atau sejenis apapun kue kering dengan isian. Kue begini banyak tersebar di Asia Tenggara. Intinya sih pia memang memiliki karakter kue berkulit dengan varian isi sesuai wilayahnya. Nopia sendiri bisa digambarkan sebagai kue kering yang bentuknya bundar tapi pipih dan punya citarasa manis legit. Gampang kok menemukan nopia di Banyumas termasuk Purwokerto dan Purbalingga. Bahkan di Banyumas ada Kampung Nopia Mino di Desa Wisata Pekunden. Sedangkan Purbalingga mencatatkan nopia sebagai salah satu kuliner khasnya yang telah ...