Life On Radio

Kata temen, Nyonya Manten nih belum bisa move on. Pasalnya, dia lihat ada buku ini di rak. Life on Radio. Bahkan dengan nakalnya ia berseloroh, "Nyonya Mantèn (mantan) Penyiar kan maksudnya ?" Eh ?! 

Jadi gitu kelihatannya ya ? Tapi iya sih, apapun jobmu di dunia radio, orang taunya ya p-e-n-y-i-a-r . Bahkan saat kamu adalah Station Manager sekalipun peranmu yo suka nggak digople blas di mata umum. Untunglah ada buku ini yang bisa menjelaskan. Life On Radio. 



Buku Saku Para Broadcaster

Life on Radio ditulis oleh Viliny Lesmana dan Iin Susanto. Diterbitkan oleh Gramedia pada 2017 lalu. Wah, bertepatan dengan waktu resign Nyonya Manten dari radio nich. Hehe.  Buku setebal 235 halaman ini bukan semata menceritakan pengalaman menjalankan bisnisnya, tapi jadi ngerti macam profesi di radio. Lumayan kasual kok cara penyampaian Vivi Lesmana ini. Cukup mudah dipahami umum. Apalagi konsepnya memang semacam share pengalaman penulisnya. 

Nah ngobrolin jauuuh soal radio, media ini punya andil dari urusan politik sampai ke ranjang. Mulai dari siaran propaganda Lord Haw-Haw maupun Tokyo Rose, penyebarluasan naskah Proklamasi Indonesia di Hoso Kanri Kyoku oleh Yusuf Ronodipuro tahun 1945, debut singel The Beatles "Love Me Do" di Radio Luxembourg pada 1962, sampai urusan yang terkesan remeh temeh tapi bikin perang dunia di dalam rumah. Apalagi kalau bukan sapaan salam buat pasangan dari mantan pacar terfavoritnya. Jangan salah loh. Dulu radio pernah punya kekuatan sampai kesana. 

Kita benar-benar harus bersyukur bahwa kita lahir setelah Marcony dan Fassenden berhasil dengan penelitiannya. Sehingga kita pernah menikmati the power of radio. PERNAH. Karena saat ini kondisi sudah berubah. 

Fokus pendengar yang bergeser dari penyiar ke lagu. Kemudian adanya kemudahan aplikasi playlist pribadi, turut menjadikan peran radio memudar. Dulu adalah sebuah kejutan ketika mendengar lagu favorit di side-B tetiba diputar. Sekarang, tanpa bantuan radio pun kita bisa memainkannya berulang sampai kuota habis. Miris. 

Balik lagi ke judul postingan. Life on Radio ini memang cenderung menggambarkan pengelolaan radio saat digitalisasi belum kebangetan merajai seperti sekarang. Lha wong ini dicetak 5 tahun lalu, Sist. Tapi karena mengedepankan perihal teamwork, mau analog ataupun digital kalau kamu masih insan radio, buku ini bisa kok jadi pegangan. Bahkan ini bisa dicontek juga di lembaga kreatif lainnya. 

Oh iya, selamat menantikan 11 September ya. Semoga ucapan atau tagar selamat hari radio masih bisa trending. Jangan kendor buat konten yang berkualitas, Tuan dan Nyonya. Karena indera dengar sebenarnya juga butuh dimaintain dari ganasnya ghibah tetangga. 
 
The world is collapsing Around our ears But i can't hear it I turned up the radio (Radio Song by R.E.M.)

Komentar

Popular

Funiculi Funicula

Mau Berbagi Suami (Lagi) ?