Drive My Red Saab Car

Adegan mobil Saab berwarna merah melaju di jalanan lengang Jepang menjadi salah satu khas film peraih Best International Features Film di Oscar 2022 ini. Drive My Car. Film yang diadaptasi dari novel karya maestro Haruki Murakami berjudul "Men Without Women". Film ini menyatukan tiga cerita pendek berbeda. Drive My Car, Scheherazade dan Kino. Sudah pernah baca novelnya kan ?

Satu Film, Tiga Cerita

Tiga cerita jadi satu ? Pesimis pada awal mendengar ini. Namun kepiawaian sutradara Ryusuke Hamaguchi menyatukan ketiganya benar-benar apik. Bagi yang sudah pernah membaca novelnya pasti bisa langsung mengenali dari judul cerita mana suatu adegan berasal.

Tanpa adegan flashback, film ini sangat memanjakan tipikal orang yang gemar membaca. Karena mata dibuat tidak beranjak sedikitpun dari setiap percakapan dalam adegan. Memahami percakapan adalah inti film ini. Jadi, agak kurang rekomen bagi Tuan dan Nyonya jika bukan tipe sabaran.

Gawat ! Makin kayak wine nih orang. Foto diunduh dari situs resmi Festival Cannes.

Meski durasinya hampir menyentuh angka 3 jam, sinematografi yang indah membuat kita betah. Padahal temponya terbilang lambat. Mungkin juga karena senyum Hidetoshi Nishijima yang membuat doki-doki di beberapa scene. Nijishima sebenarnya terlalu ganteng nih untuk memerankan Yusuke Kafuku. Ups ! Tapi memang paten aktingnya.

Drive My Car mengedepankan kisah menarik antara Kafuku dan Misaki yang bekelindan dengan naskah teater “Vanya karya Anton Chekov. Kafuku orang yang sangat depresi kehilangan istrinya Oto. Karakter Oto mengingatkan kita pada tokoh utama cerita Scheherazade. Dalam istilah yang lebih kita kenal Scheherazade adalah tokoh 1001 malam, Syahrazad. Palafalan Jepang yang membuatnya menjadi demikian.

Sementara peristiwa menohok antara Kafuku-Oto-Koshi mengingatkan kita pada cerita berjudul Kino. Waah, tidak menyangka kan bisa nyambung ketiga cerita itu ?

Film ini lebih tepat disaksikan dalam kondisi tenang. Pastikan tidak ada anak dibawah umur ataupun anggota keluarga yang cukup konservatif saat mulai menontonnya. Karena 40 menit pertama sangat tidak cocok untuk kedua kategori tersebut. Padahal itu krusial untuk menyelami inti percakapan dari Kafuku dan Misaki setelahnya.

Foto poster diambil dari situs resmi Festival Cannes


Seperti banyak kritisi menahbiskan ini sebagai film kontemplatif, Drive My Car memang banyak menyentil sisi batin kita dengan cara yang seanteng itu. Gampangnya membuat kita berpikir “Seperti inikah saya selama ini ?” Aiiih.

Soundtrack Kontemplatif

Setelah adegan menyesakkan di 40 menit pertama, alunan satu komposisi jazz membantu kita untuk sejenak menghela nafas. Bersamaan dengan munculnya credit yang bergerak bersama lajunya Saab merah Kafuku. Judul komposisinya The Important Thing is to Work. Alunan ini menyisakan perasaan yang menggantung bersama alur cerita yang terus berjalan.

Soundtrack itu merupakan karya Eiko Ishibashi yang identik dengan jazz pop orchestra. Karyanya menjadi paket komplit dalam film. Komposer ini membuat musiknya menyatu dengan percakapan, SFX hingga visual landscapenya. Pas, tanpa dominasi berlebih salah satunya. Halus dan mendalam.

Album khusus soundtrack Drive My Car sendiri telah dirilis awal tahun ini. Eiko dibantu Jim O’Rourke (gitar), Tatsuhisa Yamamoto (drum), Marty Holoubek (bass), Daisuke Fujiwara (tenor saxophone, flute) serta Kei Matsumaru (alto sax, flute, clarinet).

Berisi 12 track dengan judul utama Drive My Car dan We’ll Live Trhough The Long, Long Days, and Through The Long Nights. Penambahan dalam kurang yang berisi nama tokoh ataupun kata kunci adegan membuat kita mampu mengingat dibagian mana soundtrack ini muncul.


Asmr nyala korek api di We’ll Live Through the Long, Long Days and Through the Long Nights (SAAB 900) membuat otak langsung terbayang adegan Kafuku dan Misaki mengangkat rokok ke atap mobil. Ini menjadi scene yang sangat membantu penonton ikut menumbuhkan keberanian menghadapi masalah. Bagaimana seolah terdengat petuah bijak. “Semenyakitkan apapun kenyantannya, it’s fine. Yang perlu kita lakukan adalah tetap hidup dan move on”

Diluar 12 karya Eiko Ishibashi, film Drive My Car juga menghadirkan beberapa komposisi lawas. Sebut saja Rondo K.485 in D Major milik Mozart serta String Quartet No. 3 in D Major, Op. 18-3 karya Beethoven. Keberadaan instrumental klasik ini juga sesuai dengan penokohan Kafuku sebagai pecintanya seperti dalam novel.

Sementara satu lagu lawas yang juga turut terdengar adalah nomor jazz berjudul You’re Drivin’ Me Crazy karya Louis Armstrong. Wah, wah, wah… memang diluar sesuatu yang nge-pop ya film ini.

Bagi Nyonya Manten selain semua hal tadi, sebagai orang Indonesia adegan teater multibahasa khas Kafuku itu jadi punya daya tarik sendiri. Lah wong ada Bahasa Indonesianya juga. Bahkan akting Faisal Anwar pun bisa kita lihat di film ini. Ia berakting ciamik dengan menggunakan Bahasa Indonesia berintonasi Jepang.

Informasi Album

Album : Drive My Car Original Soundtrack
Artis : Eiko Ishibashi
Durasi : 46’ 44”
Track List

1. Drive My Car (5:04)
2. Drive My Car (Misaki) (2:27)
3. Drive My Car (Cassette) (2:55)
4. Drive My Car (The Important Thing is to Work) (3:08)
5. We’ll Live Through The Long, Long Days, and Through The Long Nights (3:56)
6. We’ll Live Through The Long, Long Days, and Through The Long Night (SAAB 900) (4:53)
7. We’ll Live Through The Long, Long Days, and Through The Long Night (Oto) (5:19)
8. Drive My Car (Kafuku) (3:39)
9. Drive My Car (The Truth, No Matter What It Is), Isn’t That Frightening) (2:07)
10. We’ll Live Through The Long, Long Days, and Through The Long Nights (and When Our Last Hour Comes We’ll Go Queitly) (5:01)
11. Drive My Car (Hiroshima) (2:47)
12. We’ll Live Through The Long, Long Days, and Through The Long Nights (Different Ways) (5:23)

Komentar

  1. "Semenyakitkan apapun kenyataannya, it's fine. Yang perlu kita lakukan adalah tetap hidup dan move on". - Ctrl Shift S

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular

Funiculi Funicula

Mau Berbagi Suami (Lagi) ?