Sandiwara Sastra

Masih di bulan September, belum sepenuhnya terlambat untuk menyampaikan "Selamat Hari Radio pada 11 September (pekan Jalu)". Sebagai mantan (broadcaster), rasanya tidak perlu muluk-muluk melayangkan harapan. Hanya saja, ada sedikit rindu pada sandiwara radio.

Sejarah Sandiwara Radio

Menakjubkan bahwa sandiwara radio pernah menjadi primadona hiburan. Bermula sejak 1920'an, ketika siaran regular mulai digagas di dunia barat. Seni opera yang disiarkan langsung melalui gelombang radio dianggap belum mampu menjadi gebrakan. Hingga kemudian tercetuslah ide pembuatan seni media sastra baru, yaitu sandiwara radio.

"A Comedy of Danger" ditayangkan pertama di The British Broadcasting Corporation (BBC) pada 1924. Sandiwara ini mengisahkan tentang orang-orang yang terjebak dalam tambang batu bara Wels. Masyarakat yang sudah mulai terbiasa mendengarkan informasi terbaru sepertinya langsung relate dengan isu sosial yang diangkat melalui sandiwara tersebut

Keunikan sandiwara radio adalah pada kepiawaian pemeran dalam bersuara serta ketepatan sound effects (SFX). Di era modern, bank sfx sangat memudahkan para mixing person. Kenyataan yang tentunya berkebalikan dari kondisi awal. Bahkan petunjuk "mematikan lampu" bagi pendengar di awal penayangan "A Comedy of Danger", dianggap menjadi salah satu upaya agar dapat berkonsentrasi pada suara.

Sandiwara radio terus mencapai puncaknya melalui "War of The World" pada 1938. Setelah berjaya hampir 3 dekade, televisi menggeser pamor sandiwara radio di dunia internasional pada 1960'an. Meski demikian di Indonesia, sandiwara radio justru menggeliat pada 1980 sampai 1990an, saat radio menjadi hiburan murah dan merakyat. Sebut saja diantaranya: Tutur Tinular, Saur Sepuh, Mahkota Mayangkara, Babad Tanah Leluhur, Butir-butir Pasir di Laut hingga Misteri Nini Pelet.

Dari beberapa judul diatas, cerita silat kolosal lebih mendominasi dibanding drama modern. Menunjukkan bahwa tradisi bisa disampaikan melaui media modern saat itu. Alih wahana dari novel ke sandiwara radio dan kemudia ke serial di televisi lambat laun menyurutkan pamor radio. Hingga saat ini, rasanya tidak lagi dapat menemukan sandiwara radio yang secocok itu di telinga

Siniar Sandiwara

Adanya Sandiwara Sastra yang digagas oleh Direktorat Jendral Kebudayaan dalam bentuk siniar di era pandemic Covid-19 pernah menjadi pengobat rindu masa-masa siaran.

Kok bisa tahu ada siniar ini? Ya karena circle pekerjaan saja yang memungkinkan untuk tahu. Selain keterlibatan sejumlah pesohor tentunya. Unggahan di sosial media mereka memudahkan untuk karya ini dicari tahu. Ditambah wabah Covid-19 saat itu membuat Sandiwara Sastra menjadi pilihan hiburan yang menyehatkan.

"Sandiwara Sastra" rilis pertama kali pada 8 Juli 2020. Cerita bersumber dari karya sastra lintas generasi yang cukup dikenal atau bahkan termasuk kategori legendaris di Indonesia. Disiarkan di RRI setiap hari Rabu pada saat itu, selain tentu saja melalui spotify budayakita. Pertama kali nonton justru di penayangan episode ketiga dan setelah itu ketagihan. Difasilitasi oleh lembaga plat merah, Sandiwara Sastra pada dasarnya merupakan project dari Titimangsa Foundation dan Kawan Kawan Media dalam penggarapan alih wahana media baru ini.



Kesan pertama mendengarkan Sandiwara Sastra Musim Pertama justru terpana pada signature tune (ST) yang mengingatkan pada gaya siaran resmi tahun 1980-1990'an. Seperti ini :
𝅘𝅥𝅯 Teng teng.. jegejeng ♪ "Pendengar yang budiman,...."
 
Gila sih, ini keren !! Kemasan nostalgianya dapet, namun atmosfer kekiniannya juga tidak hilang mengingat dialek pemerannya tetap terasa akrab di keseharian

Playlist Sandiwara Sastra

Musim Pertama dibuka oleh cerita berjudul Mencari Herman (Dee Lestari) pada 8 Juli 2020, kemudian Catatan Buat Emak (Ahmad Tohari), Kemerdekaan (Putu Wijaya), Helen Menunggu di Amsterdam (Pidi Baiq), Perempuan Indigo (Lalita), Berita dari Kebayoran (Pramoedya Ananta Toer), Seribu Kunang-kunang di Manhattan (Umar Kayyam), Layar Terkembang (Sutan Takdir Alisyahbana), Persekot (Eka Kurniawan), dan Sersan Ipi (Felix K. Nessi) menutup pada 9 September 2020

Setelah episode ke-10, tayangan Sandiwara Sastra digantikan program lain di akun spotify budayakita. Baru di Bulan November 2023, Sandiwara Sastra musim kedua hadir dengan tema misteri Nusantara. 

Berbeda dengan pola penayangan musim pertama yang membuat dag-dig-dug macam menunggu kelanjutan web series, musim kedua justru langsung menampilkan 10 episode untuk kita pilih Dan seperti dugaan, pilihan pertama jelas jatuh pada "Si Manis Jembatan Ancol". Kisah misteri yang juga menemani saat televisi menjadi kawan sehari-hari.

Selain Si Manis Jembatan Ancol (Jakarta), kisah misteri lain yang dialihwahanakan adalah: Perempuan Perkasa (Papua), Kampung Mati dan Hantu Berang-berang (Kalimantan), Pahlawan (Bali), Bombol dan Babi (NTT), Keris (Jawa), Di Tubuh Tarra Dalam Rahim Pohon (Makassar), Mimpi Jurai (Sumatera), Sandekala (Jawa Barat) dan Halo Bleki (Aceh). Seperti tujuan dari program ini, tema Misteri Nusantara memang menambah khasanah sastra (literasi), karena banyak sekali kisah, yang pertama didengar.

Meski temanya tak se-greget musim pertama plus durasi yang berbeda-beda (dan signature tune yang sayangnya berganti), beruntung Sandiwara Sastra Musim Kedua memasang suara Nicholas Saputra sebagai pengantar cerita. Ehem,.. minimal ada sesuatu yang ditunggu. 

Bagaimana dengan Musim Ketiga? Sepertinya akan menarik jika disiarkan berjaringan antar radio. Mungkin.

Komentar

Popular

Funiculi Funicula

Mau Berbagi Suami (Lagi) ?