Jegingger
Seorang perempuan rambon (keturunan campur) Jawa - Jepang bernama Lasiyah mendapat julukan Jegingger. Dalam bahasa Indonesia, disebut sebagai Bekisar Merah. Kisah berlikunya di kaki Gunung Slamet mengantarnya ke ibu kota yang penuh rahasia.
Alih Bahasa
Jegingger merupakan judul novel alih bahasa Bekisar Merah karya Ahmad Tohari. Meski bisa menuturkan bahasa ibu Banyumasan, ternyata tidak mudah untuk memahami dalam versi novel. Apalagi, corak dialek ini cukup berwarna.
Novel Jegingger ini diterbitkan Yayasan Swarahati Banyumas pada tahun 2010. Ukurannya cukup besar 18 x 26 cm dan lumayan berat karena menggunakan hard cover. Dengan setebal 266 halaman, novel ini menjadi unik karena faktor bahasa penyampainya.
Jegingger atau Bekisar Merah Edisi Banyumasan sebenarnya selesai ditulis pada November 2006. Terbitan 2010 ini Nyonya Manten peroleh usai menghadiri suatu seminar bertema Bahasa Penginyongan
Seperti halnya Bekisar Merah, novel ini bercerita tentang Lasi dan kehidupan awalnya di Karangsoga, Banyumas hingga pindahnya ke Jakarta. Cerita yang sama persis. Jadi memang Jegingger ini adalah novel alih bahasa Bekisar Merah. Dan oleh penulis yang sama, Ahmad Tohari.
Nama Ahmad Tohari telah dikenal luas sebagai sastrawan dan budayawan asal Banyumas. Karya fenomenalnya adalah trilogi Ronggeng Dukuh Paruk pada periode 1980'an.
Sinopsis
Sebelum diterbitkan sebagai novel Bekisar Merah pada 1993, cerita ini lebih dulu dimuat sebagai cerita bersambung di Harian Kompas edisi Februari - Maret di tahun yang sama. Berselang 17 tahun, Jegingger terbit hampir bersamaan dengan giatnya Ahmad Tohari menggaungkan istilah bahasa Penginyongan (bukan Ngapak) untuk istilah bahasa Jawa dialek Banyumasan ini.
Jegingger merupakan potret kehidupan sosial keluarga penderes. Nderes adalah aktivitas menyadap nira kelapa untuk kemudian diolah menjadi gula merah. Lumrahnya bila suami penderes, maka istri yang akan mengolahnya. Kehidupan adem ayem khas pedesaan. Yang jauh dari mempersoalkan kesulitan ekonomi.
Namun permasalahan muncul ketika Darsa, suami Lasi jatuh dari pohon kelapa. Sampai sekarang, inilah permasalahan terbesar penderes yang belum terpecahkan. Drama mulai bertebaran hingga kemudian Lasi memilih pergi meninggalkan kampung halamannya. Minggat. Menuju ibu kota yang tak dikenalnya.
Di Jakarta pula Lasi mendapat julukan Jegingger dari seorang pria tua kaya raya usai melihatnya mengenakan kimono. Jegingger atau bekisar merah dapat diartikan sebagai keelokan hasil kawin campur yang unggul. Pujian yang bukan tanpa alasan. Pasti ada maunya.
Beralih menjadi istri simpanan, kehidupan Lasi pun berubah. Jakarta bukan Karangsoga. Adat dan normanya sungguh tak menentramkan Lasi yang pada dasarnya lugu dan murni.
Pertemuannya dengan teman masa kecilnya, Kanjat, melahirkan keinginan-keinginan baru. Kanjat digambarkan sebagai pria green flag. Pandai, santun, kaya dan memendam perasaan terhadap Lasi.
Kategori Dewasa
Jegingger atau Bekisar Merah tergolong bacaan untuk dewasa. Sejujurnya saat membaca Bekisar Merah itu terasa lumrah saja. Namun versi alih bahasa malah membuat pikiran terlampau kemana-mana. Sepertinya banyak kosakata yang terlanjur dikenal syaraf tubuh dibanding otak.
"Atiné Darsa sing mikiné kemejot sebab weruh wit klapa sing kudu dedérés, siki dadi kemejot sebab weruh blegeré Lasi. Padha baén karo wit klapa sing cokan ngawé-ngawé njaluk depénék, semana uga bojoné." (halaman 2)
Bagaimana ? Tuan Nyonya bisa berbahasa Jawa dan paham maksud kalimat diatas ? Meski bisa berbahasa Jawa, disarankan tetap buka glosari di halaman belakang ya.

Komentar
Posting Komentar