Nopia, Kudapan Manis Hasil Akulturasi

Seperti halnya telur. Bentuknya lonjong dan berwarna putih. Namun dari wangi manisnya, sangat meyakinkan bahwa ini adalah kudapan. Kue. Namanya N-O-P-I-A. Please, jangan berpura salah dengar menjadi Novia seperti kebiasaan jokes bapak-bapak loh ya.

Nopia Kue Khas Banyumasan

Dilihat dari namanya, penganan ini termasuk hasil akulturasi budaya lokal dengan Tionghoa. Dalam bahasa Hokkien kan pia artinya kue. Jadi langsung keinget kan sama kue bernama bakpia, sopia atau sejenis apapun kue kering dengan isian. Kue begini banyak tersebar di Asia Tenggara. Intinya sih pia memang memiliki karakter kue berkulit dengan varian isi sesuai wilayahnya.

Nopia sendiri bisa digambarkan sebagai kue kering yang bentuknya bundar tapi pipih dan punya citarasa manis legit.

Gampang kok menemukan nopia di Banyumas termasuk Purwokerto dan Purbalingga. Bahkan di Banyumas ada Kampung Nopia Mino di Desa Wisata Pekunden. Sedangkan Purbalingga mencatatkan nopia sebagai salah satu kuliner khasnya yang telah mendapat predikat Warisan Budaya TakBenda (WBTb). Memang di kedua kabupaten ini nopia dan mino (mini nopia) hampir mudah ditemukan di toko-toko makanan hingga warung rumahan.

Berdasar bentuk, konon dulu masyarakat Banyumasan menyebutnya dengan roti ndog gludug (terjemah : kue telur halilintar). Ada pula yang menyebutnya ndog bulus atau ndog gajah. Nama lokal yang unik (aneh) dengan proses pembuatan yang tak kalah menarik.

Oven Gentong

Beberapa tahun silam, dalam suatu projek pekerjaan, Nyonya Manten berkesempatan melihat langsung proses pembuatan nopia. Di dapur lantai dua, kediaman seorang produsen nopia keturunan Tionghoa, kami (berlima) menghabiskan waktu hampir seharian.

Matius Hirawan (berkacamata) didampingi istri pada 2019.

Seorang pria paruh baya tanpa banyak bicara langsung memulai aktivitas pagi itu dengan membuat adonan. Seolah terlihat mudah saat ia menguleni campuran tepung terigu (protein rendah), gula, vanili dan air sebagai adonan kulitnya. Namun proses membuat adonan yang manual dengan tangan dan tenaga (serta perasaan) itu sungguh tidak bisa dipraktekkan di rumah.

Selanjutnya, dibantu sang anak, ia mulai membuat adonan isi nopia. Pemilik usaha menghendaki kami mengudap nopia citarasa klasik yaitu gula merah. Sehingga dibuatkan adonan yang terdiri dari gula merah, gula pasir, terigu, margarin, minyak nabati, dan susu. "Kami pernah mengganti merk bahan-bahan tersebut agar lebih ekonomis, sayangnya citarasa malah jadi berubah", kenang Matius Hirawan selaku pemilik saat kami bersua 2019 sampai 2020 silam.

Bukan hanya bahan baku, tata cara dan proses pembuatan nopia pun masih dipertahankan sebagaimana aslinya. Ada gentong tanah liat besar tertanam di tengah ruangan dapur. Kayu bakar yang tengah membara diletakkan didalamnya. Bukan sembarang karyu bakar. Namun Matius masih setia menggunakan blukang atau pelepah daun kelapa.

Tak berselang lama, kami melihat bara tersebut diambil, bagian tengah gentong dibersihkan dengan lap basah halus. Adonanpun mulai siap ditempelkan pada dinding gentong bagian dalam. Satu persatu disusun dari bagian mulut gentong berputar hingga ke bawah. Meski  bara telah diambil, gentong dapat menyimpan suhu ratusan derajat Celcius sehingga mampu mematangkan nopia.

Gentong itu berfungsi sebagai oven. Tak heran adolan pelan-pelan mengembang. Jika saat membentuk adonan ada yang kurang rapat, isian akan menetes ke bawah. Bocor. 

atas (ki-ka) : Nopia - Luntup
bawah : oven gentong
Dengan cekatan kedua karyawan Matius mengambil nopia yang telah matang dengan menggunakan alat semacam soled. Sewadah nopia hangat itupun disajikan untuk kami berlima. Benar-benar fresh form the gentong, ups... the oven.

"Kami pernah eksperimen dengan oven modern, namun hasilnya berbeda tidak bisa menjadi seperti nopia yang kulitnya garing seperti ini", imbuh Matius.

Ting Lie Liang

Duduk bersama pewaris usaha nopia di Purbalingga sembari mengudap nopia yang masih mengepul benar-benar pengalaman yang mengesankan. Matius bercerita bahwa semasa kecilnya nopia kerap menjadi bekal atau menu sarapan untuknya. "Menurut cerita, nelayan juga ada yang memesan nopia untuk dibawa melaut. Karena tidak cepat basi dan satu saja mengenyangkan", kisahnya.

Sejujurnya memang kenyang. Namun nopia hangat ini rasanya sangat candu sekali. Nah, sambil terus menyaksikan kedua karyawannya bekerja, Matius menyebutkan bahwa rasa original nopia yang dibuat kakeknya yang bernama Ting Ping Siang adalah rasa brambang atau bawang merah.

Diketahui Ting Ping Siang mulai aktif membuat nopia untuk diperjualbelikan pada 1940'an. Meski tanpa merk dan masuk dijual versi eceran berbungkus kertas payung atau kertas koran, satu biji nopia buatannya laris manis disukai masyarakat.
Sebelum Purbalingga, Ting Ping Siang telah memulai usaha ini di Banyumas. Menuut sumber yang beredar, keberadaan nopia di Banyumas telah ada sejak pendudukan Belanda. Pada 1880'an nopia lazim diproduksi warga keturunan Tionghoa. Sepertinya sangat mungkin ya jika keluarga Ting Ping Siang pun merupakan bagian dari kelompok tersebut.


Jenama "Asli" baru diperkenalkan ayah Matius yang bernama Ting Lie Liang pada sekira 1950. Saat itu, demi kenyamanan pembeli, nopia mulai dibungkus dengan rapi. Tidak hanya itu, nopia ukuran kecilpun mulai diperkenalkan. Disebut dengan mino. Mini nopia.

Saat ini, Nyonya Manten menjumpai banyak varian rasa nopia dan mino. Tak lagi hanya brambang, gula Jawa dan coklat. Ada pula rasa durian, nanas, stroberi hingga keju. Bahkan di gerai Nopia Asli Purbalingga ada juga varian rasa kopi. Waaaah.

Luntup, Varian Lain Nopia

Jika mino adalah mini nopia, maka dari bahan kulit dan adonan yang sama, beberapa produsen mengolahnya kembali menjadi bentuk berbeda. Saat bertemu Hendro di Dapur Mirasa Kalikabong Purbalingga, ia menyodorkan luntup.

Bermula dari menemukan nopia potong, tercetuslah luntup. Dinamakan demikian karena bagian isi meletup-letup saat dimasak, keluar dari adonan kulitnya. Luntap luntup istilah Banyumas-nya

Bagi penyuka adonan kulit yang tak segaring nopia, luntup bisa menjadi pilihan. Sayangnya kue manis ini belum mampu mengimbangi kepopuleran bakpia. Padahal sama-sama pia tuh

Komentar

Posting Komentar

Popular

Funiculi Funicula

Mau Berbagi Suami (Lagi) ?