A Complete Unknown

Sepakat rasanya jika Joan Baez mengatakan bahwa Bob Dylan mengambil oksigen dari sekitarnya. Suatu energi tak kasat mata yang ditiru Timothee Chalamet. Si pemeran Dylan dalam A Complete Unknown, film peraih 8 nominasi Oscar 2025. Whoaa !!. Sudah nonton berapa kali nich Tuan dan Nyonya ?

Gambar diunduh dari searchlight pictures.

Bob Dylan era 1961 sampai 1965

A Complete Unknown digarap sutradara James Mangold yang mengisahkan periode karier Bob Dylan pada 1961 sampai 1965. Ceritanya berkisah bagaimana ia "ditemukan" Pete Seeger hingga munculnya lagu fenomenal Like a Rolling Stone. Periode singkat yang mendasarkan pada buku karya Elijah Wald dengan judul Dylan Goes Electric.

Kok 1961-1965 ? Ya karena di era tersebut, Dylan berhasil menancapkan namanya sebagai icon musik folk dan simbol perubahan zaman. Lagunya dianggap menyuarakan perjuangan hak-hak sipil. Meski kemudian disebut bahwa Dylan "hanya ingin nge-band dengan teman-temannya", namun tetap saja ia adalah salah satu penulis puisi terbaik yang menyanyikannya dengan menggetarkan hati.

Sedikit misterius, agak menyebalkan dengan suara sengau dan bergumam ketika bertutur. Dilengkapi penampilan lusuh. Begitulah "Bobby" Dylan. Namun semua itu tak menyurutkan dunia mencintai karya dan personanya. Termasuk Joan Baez yang telah lebih dulu terjun ke industri musik.

Kisah pribadi Dylan - Baez tentu saja jadi salah satu warna dalam A Complete Unknown. Romantika mereka berkelindan dengan lagu-lagu Dylan yang ditampilkan. Tapi ingat, meski disebut bergenre biopic, beberapa adegan penting justru fiksi.

Saran Nyonya Mantern sih sebelum nonton A Complete Unknown mending bekali dulu dengan diskografi Dylan. Minimal hitsnya deh seperti : Blowin' in the Wind, The Times They Are a Changin', Mr. Tambourine Man, It's Aint Me hingga Like a Rolling Stone. Cari behind the song-nya, biar lebih mudah kenal alur cerita filmnya.

Soundtrack A Complete Unknown

Sebagai salah satu penikmat hits lawas, kisah Bob Dylan sudah tentu bukan hal asing. Namun keberanian Chalamet memainkan semua lagu dalam film secara live jadi nilai plus. Nggak mirip banget juga. Namun gesture dan style itulah yang membuat otak terdistraksi mengatakan bahwa Chalamet adalah Dylan di masa muda.

Jika diurutkan satu per satu dari menit awal, film berdurasi 2 jam lebih ini padat banget materi lagunya. Ada sekira 80 lagu yang separuh diantaranya karya Bob Dylan. Wow !! Tapi Nyonya Manten hanya memilih 7 saja yang mudah nempel bagi pendengar baru. Apa saja ?

1. Blowin' in the Wind

Lagu paling wara-wiri di film. Masterpiece sih. Diambil dari album keduanya yang berjudul The Freewheelin'. Meski ia menyebut ini bukan lagu protes, namun banyak pihak mengartikannya sebagai kritik sosial terhadap kondisi dunia di tahun 60'an. Saat itu banyak yang pesimis, akankah dunia ini penuh harapan atau justru ketakutan ? 
The answer is a blowin in the wind. 
Lagu ini jadi hits setelah penyanyi yang satu manager dengan Dylan yaitu Peter, Paul and Mary merilisnya. Di minggu pertama rilisan bahkan laku 300 ribu copy dan nembus peringkat dua Billboard.

Di film, Blowin' in the Wind jadi penunjuk hubungan Dylan-Baez yang lebih intens.

2. Girl From The North Country

Kalau pas ketemu adegan duet Dylan-Baez di Monterey Folk Festival 1963, lagu ini loh yang mereka mainkan. Juga saat Dylan bersenandung di rumah Seeger. Diambil dari album kedua The Freewheelin yang direkam pada April 1963.

Banyak perempuan yang tercatat memliki relationship dengan Dylan merasa menjadi inspirasi lagu ini. Mulai dari mantan di kampung halamannya dulu, mantan jaman kuliah hingga mantan yang paling diseriusinya Suze Rotolo. Nama ini dalam film diubah menjadi Sylvie Ruoso, sebagai penghormatan untuk Suze yang telah meninggal. Dialah yang muncul dalam cover album The Freewheelin. Meski tak ada indikasi otobiografi dalam Girl From the North Country, sepertinya banyak aja tuh pihak yang terprovokasi. Hehehe.

3. Don't Think Twice Its Allright

Adalah sebuah hal lumrah bagi musisi folk dan blues di dekade sebelumnya untuk mengadopsi melodi repertoar tradisional. Dylan juga punya kebiasaan itu. Namun yang keren, ia punya puisi panjang bertema kritik untuk liriknya.

Untuk lagu ini, Dylan meminjam melodi dan beberapa lirik dari lagu Who's Gonna Buy You Ribbons When I'm Gone milik Paul Clayton. Bedanya kali ini Dylan menggabungkannya dengan lirik bertema hubungan personal antar manusia. Putus dengan Rotolo sepertinya turut memberikan ilham dalam menyusun lagu cinta. Banyak yang menyebut, intronya asyik tapi liriknya kurang gahar. Maklumlah... Namun Dylan kerap menampiknya dan mengatakan bahwa Don't Think Twice Its Allright adalah salah satu bentuk introspeksi diri seorang manusia.

4. It Ain't Me, Babe

Lagu cinta lagi dong, Babe. Kali ini dari album keempat Another Side of Bob Dylan yang rilis pada 1964. Lagi-lagi inspirasinya adalah mantan pacarnya, Suze Rotolo. Lagu patah hati ini kemudian banyak dirilis oleh penyanyi lain, namun yang paling terkenal adalah versi Johny Cash ft June Carter.

Notasinya ringan dan sing a long. Seorang pemerhati musik menyebut jika chorusnya seumpama parodi untuk She Loves You by The Beatles. Yep, saat itu memang keduanya cukup bersaing di chart. Seru ya, "no, no,no" VS "yeah, yeah, yeah".

Dalam film, adegan duet Dylan Baez menyanyikan ini begitu epik.

Di seputaran inilah adegan epiknya. Kok bisa ? Tonton dong. Gambar diunduh dari searchlight pictures


5. The Times They Are A Changin

Anthem untuk suatu perubahan yang dinantikan masyarakat saat itu. Tapi masih relevan aja sampai kini. Melodinya sendiri banyak dipengaruhi balada Irlandia dan Skotlandia.

Lagu ini punya catatan khusus dalam peristiwa politik yang besar di Amerika. Tak sampai sebulan rekaman lagu ini, Presiden John F. Kennedy diberitakan dibunuh pada 22 November 1963. Sementara malam berikutnya, Dylan harus membuka konser dengan The Times They Are a Changin. Sosok JFK sendiri adakalanya menjadi topik dalam lirik-lirik Dylan.

6. A Hard Rain's a Gonna Fall

Usianya baru 21 tahun saat lagu ini tercipta. Di umur tersebut Dylan menyuarakan kegelisahan kemungkinan perang nuklir pada periode 60'an. Judulnya kadang disingkat A Hard Rain. Direkam sekali take pada 1962 dan muncul di album The Freewheelin Bob Dylan.

7. Like a Rolling Stone

Ini dia lagu terhebat sepanjang masa karya Bob Dylan. Bagaimana tidak ? Newport Folk Festival yang telah membesarkan namanya seketika membuat namanya terombang-ambing. Seorang penyanyi folk, solois yang identik dengan gitar akustik dan harmonika tetiba saja hadir dengan format band elektrik. Memainkan perpaduan hingar bingar blues, rock 'n roll dengan lirik terus terang penuh sarkasme. Reaksi penonton itulah yang membuat lagu ini kemudian istimewa.

Dylan keluar dari zona nyaman "mengadopsi dan mengadaptasi repertoar tradisional yang pasti diminati" menuju "karyanya yang bebas".

Like a Rolling Stone mencapai runner up chart Billboard pada musim panas 1965 dan menjadi top 10 di Australia, Selandia Baru, Belanda, Kanada dan Inggris Raya.

Gaya Dylan terlihat berubah saat ia mulai memainkan elektrik. Gambar diambil dari seachlight pictures.

Selain karya Dylan ada dua lagu terkenal yang juga dinyanyikan secara live. Yaitu There But For Fortune yang dinyanyikan Monica Barbaro pemeran Baez dan Wim O Weh (Mbube) oleh Edward Norton yang secara apik memerankan Pete Seeger. Memang film ini full music. Bukan sekedar pemanis tapi sebagai bridging cerita dalam filmnya.

Film tentang perjalanan karier bermusik Bob Dylan sebenarnya bukan kali pertama ini dibuat. Sebelumnya sudah ada No Direction Home. Namun bedanya, A Complete Unknow terkesan cukup nge-pop untuk menceritakan perjalanan berliku sang legenda. Cukup ringan juga untuk ditonton bersama anak kita yang telah beranjak remaja. Hanya saja.... jika mereka tidak punya bekal tentang BOB DYLAN, mereka tak akan dapat menangkap sisi menariknya film ini, selain persona akting ciamik Chalamet.

Komentar

Popular

Funiculi Funicula

Mau Berbagi Suami (Lagi) ?