Nasi Rames
1/365 di tahun 2025. Hal favorit apa yang sudah dilakukan ? Tentu saja mengunyah sarapan berupa nasi rames. Bukankah memanjakan diri dengan menu terkenal di Belanda ini diperlukan sebagai mood booster di awal tahun.
Nasi Rames bagi sosok seperti Nyonya Manten ini tak hanya sekedar menu sarapan. Mau jam berapapun saat malas memasak atau tidak terburu waktu, maka nasi rames adalah pilihan. Meski disebutkan rames adalah akronim dari ora mesthi (tidak ada kepastian).
Nasi Rames Van Der Capellen
Tak hanya dikenal di Indonesia, nasi rames cukup memiliki nama di Belanda. Dipopulerkan oleh Tuan dan Nyonya van der Capellen. Pria yang kemudian dikenal dengan panggilan Paatje dan istrinya yang disebut-sebut sebagai Tante Truus ini pernah menjabat sebagai Kepala Dapur Umum untuk Komunitas Belanda di Bandung pada era 1940’an.
Pasangan ini tinggal di Kebon Kawoeng, Bandung hingga kemudian mereka repatriasi pada 1950. Namun kebiasaan menyajikan menu indisch terbawa sampai ke Belanda. Tante Truus yang terlatih meracik menu seimbang berupa nasi komplit dengan sayur dan daging dalam satu piring, memperkenalkan nasi rames melalui restoran di Haarlem, Holland bagian utara. Bahkan kemudian nasi rames menjadi sangat terkenal dan disajikan kepada Ratu Juliana di tahun 1970.
foto Tante Truus tengah meladeni Ratu Juliana diunduh dari site indebuurt.nl
Penyajian seperti itu diakui Tante Truus tercipta karena kebutuhan pada saat kondisi Perang Dunia II yang dilaluinya saat berada di Bandung. Pada masa pendudukan Jepang, jumlah yang harus disiapkan bertambah ribuan porsi untuk kebutuhan para Romusha.
Dengan isian serupa, hidangan itu terdiri dari sepiring nasi, sayuran bergizi, sedikit daging dan sambal. Tante Truus menamakannya nasi remus. Wikipedia menyebutnya berarti nasi remuk, namun entah mengapa menurut Nyonya Manten, kata remus seolah terdengar seperti pelafalan bule untuk Romusha.
Nasi Rames Serat Centhini
Meski banyak catatan menyebut nasi rames begitu identik dengan van der Capellen, namun sebuah iklan yang ditemukan dari Surat Kabar Bintang Timoer edisi Februari 1928 telah mengabarkan keberadaan rames. Lihat dalam tangkapan layar dibawah.
Sebuah restoran di Weltevreden (Batavia) yang menyajikan makanan tjara Djawa yang toelen (baca : cara Jawa yang tulen), yaitu : Lontong Rames, Nasi Rames Djocja, Nasi Goerih Rames, Nasi Rawon Soerabaja, Nasi Goreng, Soto Djawa, Petjel Solo, Sate Kambing, Sate Ajam, Mie Ajam. Dalam iklan disebut restoran in bernama “POERWOREDJO” dan terletak di sebelah Cinema Palace.
Selain itu, dalam versi terjemah Serat Centhini yang ditulis pada 1814, disebutkan ketika berada di Wanamarta, Jawa Timur tokoh utama Syeh Amongraga disediakan hidangan pagi berupa nasi goreng, nasi rames, nasi tumpeng dan sebagainya. Bukan itu saja, dalam pupuh 434 bait 2 – 12 juga disebut kembali.
"Seh Amongraga setiap hari ketika diberi makan hanya pisang yang dimakan. Suatu saat Jamal Jamil menunjuk dua anak gundul berusia 5 tahun bernama Tengul dan Sentala. Ia disuruh makan nasi rames dan nasi pindang."
Komposisi Nasi Rames
Hidup berdampingan dengan sejumlah penjual rames, membuat Nyonya Manten secara tidak sadar memberi mereka label berbeda. Bergantung dari isian dan cara penyajiannya.
Rames memiliki komponen utama berupa nasi putih. Nasi yang dikukus secara tradisional adalah yang favorit. Aroma dan citarasanya lebih enak. Kondimen wajib berikutnya adalah : sayur, lawuh atau lauk dan pelengkap.
Untuk sayur yang paling umum dalam rames adalah : tumis tempe, tumis kacang panjang, mie goreng, kare kentang atau sayuran hijau yang nyemek. Lauknya beragam menyesuaikan harga, bisa ayam, telur, tahu tempe, perkedel atau bahkan daging. Sedangkan pelengkapnya inilah yang membuat khas. Pilihannya bisa serundeng, sambel, kerupuk ataupun runtuk.
Untuk pedagang gerobak atau skala kecil rumahan, rames biasanya dijual dalam versi dibungkus daun atau kertas dialasi daun. Agar tetap enak, pedagang modern memberi alas plastik bening diatas nasi putih sebelum sayur dan lauk pauknya ditata.
Sementara untuk rumah makan, rames dapat disajikan secara prasmanan atau rijstaffel. Nah, penyajian terkahir inilah yang sepertinya mengacu pada rames era Tante Truus.
Namun tidak salah juga apabila kita masih beranggapan bahwa rames ini menu lawas yang sangat lokal. Kata ora mesthi menunjukan bahwa sayur, lauk dan pelengkapnya hingga ke harganya ini tidak dapat distandarkan. Tentu saja ini berbeda dari prinsip modern yang selalu terstruktur rapi.



Komentar
Posting Komentar