Si Mbok The Wise Thinker For Nduk
Sekiranya bisa mengingat, apa sih ajaran ibu yang paling terngiang ? Biasanya seiring berjalannya waktu, kita -para puan- baru tersadar bahwa apa yang dilewati pernah disounding saat kecil. Seperti tertuang dalam Si Mbok the Wise Thinker for Nduk, sebuah buku karya Sayekti Pribadiningtyas.
Judul buku : Si Mbok the Wise Thinker for Nduk (Ajaran Ibu Untuk Putrinya)
Penulis : Sayekti Pribadiningtyas
Penerbit : Kana Media
Tahun : 2014, Cetakan 1
Embok Simbok
Kata Si Mbok dalam judul buku mengacu pada seorang ibu. Di Jawa, si Mbok biasanya menjadi sapaan untuk para ibu di kampung. Ibuknya orang-orang biasa.
Kadangkala sebutan Si Mbok juga ditujukan untuk perempuan yang lebih tua dari ibu kandung dan bertanggung jawab ngemong kita disaat kecil. Meski bukan dari kalangan priyai, biasanya si Mbok paham benar terhadap tatanan. Mulai dari tata krama sampai bagaimana kiat menjaga kedamaian batin seorang perempuan kelas atas, semua dikuasainya.
Seperti halnya Si Mbok yang tahu benar permasalahan Bendara Puteri (majikan perempuan) secara turun temurun, buku ini membongkar taktik bertahan hidup di tengah budaya patriarki yang masih kental. Jadi tak mengherankan apabila buku ini juga berisi petuah bagaimana berperilaku dari jaman gadis belia sampai menjadi seorang istri.
Gaya Limbukan
Sebagai seorang psikolog, penulis memposisikan diri menjadi Si Mbok. Terdapat 39 bahasan yang disajikan dengan sederhana dan singkat. Tidak bertele-tele dan cukup gamblang. Dilengkapi dengan ilustrasi yang menyentil.
Dilihat-lihat, monolog Si Mbok ini mengingatkan pada petuah Mother Cangik namun disajikan dengan gaya kemayu Daughter Limbuk. Kedua tokoh pewayangan ini kan suka tanpa tedeng aling-aling jika membicarakan ulah para pria. Begitupun dalam buku ini.
Dengan tebal 118 halaman warna, buku motivasi ini menjadi berkesan menyenangkan untuk dibaca. Hanya mungkin tetap perlu pendampingan bagi pembaca remaja dibawah 13 tahun. Karena ada beberapa kata makian yang muncul dalam ilustrasi.
Jadi ingat frasa "jalan menuju hati seorang pria adalah perutnya"
Namun, untuk perempuan dewasa seperti kita, buku ini membawa kita mengingat banyak petuah ibu. Ajaran yang tak dipahami jika belum mengalaminya langsung. Betul tidak ? Seperti dalam cuplikan yang Nyonya Manten comot untuk penutup ini.
“Lha wong stres itu yang ngajari kita jurus menginjak buaya dan berkelit dari serangan ular dengan mata tertutup” – halaman 18


Komentar
Posting Komentar