Student Hidjo

Pria muda terpelajar itu bernama Hidjo. Nama yang mengandung unsur warna kemakmuran. Hijau (mungkin kalau di Inggris, namanya Arthur). Maka selanjutnya ia dikenal sebagai Student Hidjo. Sematan embel-embel student menjadi petunjuk bagaimana ia berjuang untuk menepis persoalan status sosial yang dihembuskan Belanda.

Perempuan muda cantik yang menjadi tunangannya, kekasih masa kecilnya adalah Biroe. Masih kerabat dekat. Suatu tipe perjodohan yang lumrah pada awal abad XX. Perasaan kegelisahan keduanya mewarnai bab-bab awal novel berjudul Student Hidjo.

Novel Fiksi era Kolonial           

Student Hidjo pertama kali diterbitkan sebagai cerita bersambung di Harian Sinar Dunia. Buah karya Mas Marco Kartodikromo pada 1918. Setahun kemudian, barulah diterbitkan menjadi novel melalui penerbit N.V. Boekhandel en Drukkerij Masmank & Stroink. Sudah lewat satu abad. Aslinya jelas menggunakan ejaan van Ophuijsen. Namun, dapat dipastikan jika saat ini tentu membacanya dalam Ejaan Yang Disempurnakan.

Mas Marco Kartodikromo lahir di Cepu, Jawa Tengah pada 1890. Ia dikenal sebagai salah satu jurnalis di awal abad XX. Acap mengangkat isu sosial di tengah situasi penjajahan. Tak ayal hidupnya biasa dalam pengawasan Belanda. Ia dibuang dan dipenjarakan di Digul karena terlibat dengan partai komunis pada 1926. Disana ia diserang malaria hingga meninggal pada 18 Maret 1932.

Meski berada didalam penjara tak mebuat Mas Marco berhenti menulis. Lagi-lagi ia memilih menggunakan bahasa Melayu dibandingkan bahasa asalnya, Jawa. Perlu diketahui, bahasa Melayu adalah pendahulu dari bahasa Indonesia modern. Karya-karya Mas Marco, termasuk Student Hidjo dianggap liar, tidak lulus sensor Balai Poestaka yang didukung pemerintahan Hindia Belanda.

Sinopsis

Student Hidjo ini cetakan yang kedua di tahun 2015. Diterbitkan oleh NARASI dan setebal 140 halaman.

Novel Student Hidjo mengambil latar Jawa dan Belanda. Terlahir sebagai anak saudagar sukses yang cakap, tak lantas membuat keluarga Potronojo puas.

“Maksud saya mengirimkan Hidjo ke Negeri Belanda itu, tidak lain supaya orang-orang yang merendahkan kita bisa mengerti bahwa manusia itu sama saja. Buktinya anak kita juga bisa belajar seperti regent-regent dan pangeran-pangeran” (hal. 6)

Ya, Hidjo melanjutkan sekolah ke Belanda. Dengan sedih Hidjo meninggalkan ibunda dan tunangannya, Biroe. Namun selang berapa waktu kemudian, sebelum mencapai tujuan ia sedikit terhibur saat menyadari bagaimana relasinya dengan orang-orang Belanda yang ditemuinya. 

 “… tetapi luar biasa karena mulai saat itu Hidjo bisa memerintah orang-orang Belanda. Orang yang mana kalau di Tanah Hindia kebanyakan sama bersifat besar kepala.” (hal. 41). 

Itu jelas berkebalikan dengan kenyataan di tanah airnya. Dimana bumiputera harus menggunakan bahasa Melayu atau bahasa Jawa Kromo saat bertemu Belanda. Sementara mereka malah dengan seenaknya pakai bahasa Jawa Ngoko. Lalu bagaimana kehidupan Hidjo di Belanda ? 

Lumrahnya anak muda dan tokoh utama, Hidjo dengan cepat menarik perhatian Betje anak gadis orang tua asuhnya. Bahkan berlanjut kearah yang lebih jauh. Sementara itu di Jawa, tak hanya Biroe, adik perempuan kawan Hidjo pun diam-diam menaruh hati padanya. Namanya Woengoe. Ayahnya menjabat sebagai Regent di Djarak. Padahal yang naksir Woengoe ini banyak, bahkan sampai seorang Asisten Resident. Kisah cinta yang sungguh mbulet.

Akan berlabuh kemanakah hati sang lakon Hidjo ? 

"Menikah dengan gadis Belanda sama dengan meninggalkan sanak famili dan bangsaku." (hal. 49).

Lalu dengan Biroe ? Bukankah secara weton hubungan keduanya ada kekurangan. 

Jawa Elit

Mengisahkan kehidupan keluarga kelas atas di Jawa pada awal abad XX, tak mengherankan jika banyak kosakata Belanda dalam dialognya. Bahkan Wardojo pun dengan biasa bertanya “Ben je klaar Zus ?” pada adiknya Woengoe. 

Gambaran lain adalah tentang kebudayaan Jawa kelas atas yang tertangkap diantaranya tentang adanya permainan Gendhing Kuwung-kuwung yang dipentaskan di kediaman Regent Djarak. Instrumental itu dikenal pada era Hamengkubuwono VII yang menggambarkan keindahan. Jika mengingat waktu penulisan, tahun tersebut menjadi masa pemerintahan Sultan Behi tersebut.

Sayangnya, penggambaran pergerakan Serikat Islam (SI) maupun sepak terjang Hidjo sekembalinya ke Jawa kurang terasa update. Padahal sebagai jurnalis, Mas Marco jelas punya akses data tersebut. Bahkan termasuk endingnya pun terasa sekali terburu-buru. Namun apapun alasannya, satu hal yang perlu diingat bahwa inilah novel yang mengedepankan penggunaan calon bahasa persatuan sebelum Sumpah Pemuda berkumandang. 

Komentar

Popular

Funiculi Funicula

Mau Berbagi Suami (Lagi) ?