Pempek

Suka pempek, tapi enggak ngerti citarasa yang asli. Maklumlah, di luar Sumatera juga kan banyak dijumpai penganan khas Palembang ini. Dengan beragam klaim, lidah kerap mencoba beragam varian. Intinya selama menemukan rasa ikan yang cukup kuat dengan kuah cuko sesuai selera, ya anggap saja seperti itulah Pempek.

Di tempat asalnya, Palembang (Sumatera Selatan), sebutan pempek sendiri ditujukan untuk hidangan berbahan sagu, ikan yang dapat ditambah unsur lain dengan pelengkap berupa cuko. Menu yang tak hanya memiliki nilai ekonomis namun juga nilai budaya. Dengan beragam pendapat terkait asal muasalnya, pempek telah menjadi identitas bagi masyarakat Palembang.


Sejarah Pempek

Penganan berbahan sagu telah dikenal warga bumi Sriwijaya sejak abad VII. Hal ini diperkuat melalui Prasasti Talangtuo yang mengabarkan komoditi sagu (tumbuhan enau) yang dimiliki. Sementara secara geografis, Sungai Musi kaya akan bermacam jenis ikan.

So, ketika ada uji praktek membuat menu campuran keduanya tentu sangat lumrah. Menurut buku berjudul "Pempek Palembang : Makanan Tradisional Dari Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan" terbitan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Padang tahun 2014, menu uji coba tadi dinamai kelesan. Dari bentuknya, kelesan ini yang sekarang dikenal sebagai pempek lenjer.

Sementara dari Kalpataru, Vol. 8 no.1, Juli 2022 menyebutkan bahwa di Palembang sendiri ada kesepakatan tidak tertulis perihal nama pempek yang berasal dari "Pek... Apek". Sebuah panggilan pada pria Tionghoa penjual kelesan.

Apek atau Ampek ini artinya Paman untuk usia diatas orang tua kita. Dari panggilan itulah kemudian berkembang menjadi sebutan Pempek. Sementara kembali dari penelusuran BPNB Padang, penyebutan pempek bermula dari proses pembuatan adonan yang diempek-empek atau ditekan-tekan. Sumber lain banyak yang menyebutkan jika pempek sudah dikenal sejak masa Kesultanan Palembang.


Salah satu pempek favorit Nyonya Manten. Pempek Bu Jaelani di tempat barunya Jalan Laban Gg Daun no. 1 Cilacap. Ini versi udah dibawa pulang dan sempat stay di lemari pendingin 3 hari. Berhubung tidak terlalu suka mentimun, ya begini komposisi versi sendiri. By the way, brazillian spinach dalam foto hanya pemanis ya. Agak nggak nyambung soalnya pas ngelalap bayam itu sama pempek. Di cafe ini bukan hanya pempek tapi tersedia juga tekwan. Konon, Bu Jaelani mendapat resep dari kawannya yang asli Palembang dan dicobalah buat dijual. Tahun 2004 awalnya hanya menerima pesanan. Baru deh 2008 mulai dibuka warung pertamanya di Jalan Gatsu dekat terminal Cilacap.


Ragam Pempek

Dalam perkembangannya, pempek kemudian banyak dimodifikasi. Mulai dari bahan, bentuk hingga berpengaruh ke citarasanya. Coba lihat dalam seporsi pempek yang kerap kita beli. Tak hanya lenjeran kan ?

Bisa jadi kombinasinya ada kapal selam yang berisi telur, adaan yang bulat-bulat gurih dan terasa sekali bawangnya, lenggang yang dominannya dipanggang sampai pistel yang mirip pastel. Banyak lagi macam lainnya, hanya saja kalau yang dikenal menasional ya terbatas kan.

Bagaimana dengan cocolannya ? Eh, dicocol ya ? Kabarnya begitu cara makan yang benar. Pempek dicocol ke cuko, kalau cuko masih tersisa barulah disruput.

Wah, wah, wah... ternyata Nyonya Manten adalah kaum kuah, karena selalu mencampurkan langsung pempek dan cuko dalam mangkuk. Asam manis pedas rasa cuko terasa nampol disetiap gigitan pempek yang kuat citarasa ikannya. Sriuuupp.


Foto Laksan Palembang diambil dari laman manisdansedap


Padahal ya kalau suka yang model kuah, menu turunan pempek itu ada loh yang berkuah. Sebut saja Model, Tekwan, Celimpungan dan Laksan.

Sejauh ini baru pernah mencoba tekwan sih. Adonan pempek yang lebih lembut dengan bentuk bulat kecil dan direbus dicampur dengan soun, irisan jamur kuping, mentimun dan bengkuang ini terasa nikmat dengan guyuran kuah udang yang bening. Belum lagi kalau ditambahin sambal cabe pedas plus kecap dan cuko.

Walaaaah, Nyonya Mertua lewat pun rasa tak nampak. Seperti kata sebuah lagu Palembang berikut ini.
🎶 masok ke mulut matonyo mejem, mertuo lewat masih ditelen 🪗. 
Betul tak ?

Komentar

  1. Saya beberapa kali ke Kafe Bu Jaelani. Enak dan ikannya terasa. Ada bonus petik anggur kalau pas musim.

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular

Funiculi Funicula

Mau Berbagi Suami (Lagi) ?