OST House of Ninjas

Detik ke 00:06 serial House of Ninjas inilah yang menjadi awal keinginan menyelesaikan serial Jepang ini secara maraton. Adegan pertarungan antar Ninja dalam keremangan malam yang dibalut lagu karya Graham Nash ini sungguh diluar kebiasaan. Meski bergenre thriller action, perasaan manis dari lagu pembuka ini menyiratkan jika ini adalah drama keluarga.


Rumah keluarga Tawara. Semua gambar merupakan tangkapan layar dari serial House of Ninjas milik Netflix.

Sinopsis House of Ninjas

House of Ninjas mengisahkan tentang shinobi (mereka enggan disebut ninja) yang tersisa di tengah kehidupan modern. Adalah keturunan Hanzō Hattori yang menjadi senter dari cerita ini. Menggabungkan unsur sejarah dalam fiksi memang selalu menarik.

Keluarga Tawara adalah kamuflase keturunan Shinobi terakhir yang membaur dalam masyarakat. Mereka terlihat seperti keluarga pada umumnya. Normal. Ayah Souichi bekerja, ibu Yoko belanja, nenek Taki menjaga rumah dan anak-anak yang terdiri dari Haru, Nagi dan Riku sibuk dengan dunianya masing-masing. Bedanya mereka adalah shi-no-bi.

Kehilangan Gaku, si anak pertama yang dinyatakan tewas dalam misi 6 tahun lalu adalah alasan menjadikan mereka berlaku normal. Sampai satu misi besar kembali dilakoni Tawara. Kembalinya musuh bebuyutan klan Fuma Kotaro membawa petaka di keluarga ini.

Dan disitulah bagaimana peran semua anggota keluarga sebagai pilar Shinobi yang setia pada pemerintahan diuji. Bukankah shinobi sejak awal sejarahnya dibuat sebagai spionase kekaisaran (pemerintah) ? Kemampuan infiltrasi mereka memang tepat untuk bermacam 'pekerjaan kotor' yang tidak mungkin dilakukan samurai pada saat itu.

Fuma Kotaro dan Hanzō Hattori sendiri dikenal sebagai ninja yang hidup pada era keshogunan. Dalam kehidupan nyata Fuma Kotaro dieksekusi oleh pasukan penegak hukum atasan Hanzō Hattori pada 1603.

Sementara kabar meninggalnya Hanzō simpang siur, mulai dari akibat penyakit sampai dibunuh Fuma Kotaro. Keduanya adalah nama gelar yang disematkan turun temurun. Cerita persaingan keduanya banyak diadaptasi ke drama, film hingga games.

Kento Kaku mendapati ide awal serial ini saat mengantar puteranya menyaksikan drama tentang Shinobi dalam sebuah tour sekolah. Dan Dave Boyle menangkapnya sebagai salah satu peluang mengangkat kembali misteri para ninja sebagai cerita orisinal yang memadukan fiksi dan sejarah.

Gambar pemeran Keluarga Tawara diunduh dari Netflix.

Selain Kento Kaku yang juga menjadi co executive produce, series ini turut dibintangi Yosuke Eguchi (Hajime Saito di Ruroken live action) dan Takayuki Yamada (Serizawa di Crows Zero). 

Hits Oldies sebagai Lagu Tema

Di episode pertama sebagai adegan pembuka ketika empat orang anggota keluarga Tawara 6 tahun silam melakukan sebuah misi. Pertempuran yang dalam proses syutingnya dilakoni sendiri oleh aktornya tanpa bantuan wire / sling. Saat para tokoh berlarian di sebuah pelabuhan dengan diiringi "Our House" itulah terasa bagaimana bahwa keempat orang itu bukan sekedar sekutu namun keluarga.

Dalam remake versi Tomo Nakayama, aransemen seolah tidak banyak berubah. Sehingga suara musisi Jepang yang berkiprah di Seattle Washington ini tetap mengingatkan kita pada paduan David Crosby, Graham Nash, dan Stephen Stills.

♪ Our house, is a very, very, very fine house ♪

Kehidupan Shinobi di era modern ternyata cukup merepotkan. Dengan aturan yang super ketat para Shinobi yang tersisa pun masih diawasi oleh Bureau Ninja Management (BNM) dibawah naungan Dinas Kebudayaan. Wah, dianggap hanya sebagai tinggalan budaya keshogunan tapi aturan macam militer.

Persinggungan tokoh utama dengan love interestnya, seorang jurnalis pengulik isu yang berkaitan dengan BNM menjadi bumbu penyedap kisah ini. Suasana menegangkan terlihat saat Haru ditugaskan membuntuti Karen Ito dalam proses pencarian beritanya hingga masuk ke sebuah club. Bayangkan ninja yang dilarang menunjukan identitasnya, pantang minum alkohol (plus makan daging) dan berkencan tetiba masuk ke night club. Tapi adegan ini sungguh seru.

Banyak yang menyukai adegan aksi ini. Dibawah kelip lampu yang silih berganti, kisah personal Haru Tawara pun dimulai. Disini, intro "Nothing's Changed" menyamai detak jantung kita seiring pandangan kedua tokoh yang bertumbuk. The Zombies, turut menyihir kita. Apalagi kemudian Serizawa eh.. Tsujioka memperlihatkan diri.

♪ It's a mistake going back. They tell me that nothing's the same ever again ♪
The Zombies mungkin menjadi satu-satunya grup yang justru menuai kesuksesan setelah mereka bubar. Dibentuk di St. Albans, Inggris pada 1962 oleh Rod Argent (piano, organ dan vokal) dan Colin Blunstone (vokal). Paduan rock jazzy yang cukup asyik

Sihir Yamada kembali berlanjut di episode kedua. Perhatikan saja ketika petinggi Gentenkai ini tengah berpidato. "Mari percaya jika kita semua bersatu, kita pasti akan mendapatkan kembali apa yang telah hilang", ucapnya. Mana yang menarik ? Kalimatnya atau ekspresinya ? Apalagi itu didukung oleh suara merdu Carla Thomas pada menit ke-45 yang melantunkan lagu gubahannya saat berusia 16 tahun.

♪ Gee whiz, look at his eyes. Gee whiz, how they hypnotize. He's got everything a girl could want ♪
Gee whiz ini ya kalau diartikan serupa dengan "whoaaah". Seruan surprise melihat Tsujioka yang berpenampilan layaknya John Lennon. Penampilan yang hampir meyakinkan bahwa ia seorang aktivis lingkungan. Sementara diluar itu Gentenkai terus melakukan upaya guna mewujudkan cita-cita Fuma Kotaro.

Aktivitas lain Gentenkai berpusat tak jauh dari Fujiyama. Hamparan ladang bunga kuning yang luas berpadu indah dengan langit biru diatas Gunung Fuji. Kita bisa melihat pemandangan menakjubkan ini di episode ketiga. Sekaligus mendengat suara indah menyenandungkan bait ini.

♪ Blue skies, smilin' at me. Nothin' but blues skies do I see ♪

Perpaduan klasik dan jazz ini membius seperti biasanya. Disusun pada 1926, Irving Berlin memberi judul lagunya ini dengan "Blue Skies". Lagu yang kabarnya banyak disertakan dalam film maupun musikal. Pernah dinyanyikan Bing Crosby juga Frank Sinatra.

Diluar hits oldies, terdengar juga lagu anak-anak yang mampu sedikit menghalau perasaan gloomy. Di episode keempat, lagu berjudul Countdown yang Push Pop Jr., Cottage Sounds Unlimited & Eva Luna ini cocok membuat kita terhibur saat melihat Nagi mengecoh seorang detektif swasta.


♪ Four five six seven eight nine get ready to get back down down down ♪
Sedikit gambaran akan sejarah shinobi pelan-pelan dispoiler para tokohnya. Termasuk asal usulnya dari Oniwaban. Boleh banget buka catatan sejarah oniwaban tuh biar paham bagaimana konsep aksinya para shinobi. Menyaru seperti yang dilakukan Nagi diawal itu sudah jadi kemampuan wajib loh.

Karena tidak hanya anak perempuan keluarga Tawara itu saja, ibunya pun sama tengah menyamar menjadi seorang perempuan penikmat musik jazz ditengah misinya. Baru sadar juga kan jika outfit yang dikenakan shinobi sebisa mungkin memudahkannya bergerak dan bisa menutupi mukanya.

Nah, The Zombies kembali menjadi lagu yang muncul kala aksi para shinobi yang cepat dan tepat sasaran. Saat Souichi membantu Yoko dan Nagi yang terdesak, terdengar "Gotta Get a Hold of Myself" mengalun usai ia berkata, "Saatnya berburu".

♪ Girl, I know you're not coming back anymore. So why oh why do I keep on watching the door? ♪

Perasaan penantian pemirsa akan kembalinya Souichi sebagai keturunan Hanzō Hattori seolah terjawab dari lirik yang penuh keraguan tadi. Soichi memang kembali dan tak salah kita semua menantinya. Lagu ini ditulis oleh Clint Ballard Jr. & Angela Riela dari album Zombie Heaven (1966).

Perasaan bahagia Yoko dan Nagi ditambah tekad Souichi melindungi anak istrinya itu seolah menandakan hal positif yang semakin ditingkahi iringan piano yang lincah. The Zombies kembali menyapa dengan "This Will Be Our Year". Liriknya yang ditulis Chris White serta cara Colin Blunstone menyanyikan lagu tema manténan ini dengan penuh semangat menjadikan adegan terasa dramatis. Dari album Odessey and Oracle (1968) bisa dibilang This Will Be Our Year ini memang favorit.

♪ The warmth of your love's like the warmth of the sun. And this will be our year, took a long time to come ♪

Memasuki fase-fase penuh emosi, episode kelima memasang kembali "Our House" versi akustik yang masih dinyanyikan Tomo Nakayama. Adegan suasana hangat di rumah keluarga Tawara setelah mereka 'kembali ke khitahnya' mengingatkan bagaimana dulu lagu ini tercipta.

Graham Nash kerap mengisahkan jika lagu ini bermula saat ia dan istrinya Joan baru membeli sebuah vas di toko barang antik pada 1969. Aktivitas Joan yang merangkai bunga di suatu pagi hari yang dingin itu seolah ditransfer pada adegan Yoko di gambar bawah. Ia kembali membuat rumahnya indah setelah mereka semua memutuskan berdamai dengan kenyataan.


♪ I'll light the fire. You place the flowers in the vase that you bought today ♪

Meski alur serial ini cukup mudah dipahami, bahwa setiap usai kedamaian muncul di pertengahan cerita, maka kekacauan akan hadir sebelum ending. Benar sekali. Kehadian putra pertama Soichi yaitu Gaku di episode keenam terasa membahagiakan sekaligus menyedihkan. Penuh kenangan dan kecurigaan. Perubahan perilaku Gaku yang kemudian tertangkap mata Nagi, adik yang begitu mengidolakan kakaknya ini sangat menyesakkan.


♪ Should I try to hide the way I feel inside ♪

The Zombies membuat nafas kita tercekat dengan lagu yang minim instrumen di awal ini. Dari album perdana Begin Here (1965) "The Way I Feel Inside" menggambarkan sejumlah rahasia yang ingin dibagikan si tokoh dalam serial kepada pemirsanya dalam diam.

Serial ini ditutup pada episode kedelapan. Dengan kembali terdengarnya "Nothing's Change" sebagai salam perpisahan.

♪This is just one day, but one day is enough to start all over again. Give me just one day and we will begin all over again♪

Tapi ngomong-ngomong, lagu siapa yah di episode akhir pada saat kemunculan kunoichi yang membantu Hattori ? Jika ada yang paham, silakan komentar ya.



Memilih lagu tema memang gampang-gampang susah. Selera sang kreator jelas memegang andil besar. Namun semua pasti sudah dikaitkan dengan alurnya. Suka tidak suka semua pasti ada cocokologinya.

Komentar

  1. I'll light the fire, while you place the flowers
    In the vase that you bought today.

    Staring at the fire for hours and hours,
    While I listen to you play your love songs
    All night long for me, only for me.

    Our house, is a very, very, very fine house.
    With two cats in the yard,
    Life used to be so hard,
    Now everything is easy 'cause of you.

    Come to me now, and rest your head for just five minutes,
    Everything is done.

    Such a cozy room, the windows are illuminated
    By the evening sunshine through them,
    Fiery gems for you, only for you.

    I'll light the fire, while you place the flowers
    In the vase that you bought today.

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular

Funiculi Funicula

Mau Berbagi Suami (Lagi) ?