Alihwahana Gadis Kretek
Melahirkan penderitaan Roemaisja ke dalam tubuh Dasijah, sepertinya menjadi menarik dalam media berbeda. Alihwahana ini bukan hal baru di kalangan pekerja kreatif. Menyadari dengan seksama para audiensnya menyukai romantika (baca : bucin) maka inilah yang menjadi bumbu penyedap dalam racikan kisah perempuan dalam meraih mimpi "Gadis Kretek".
Gambar diunduh dari info netfix
Kisah Jeng Yah dari Kota M
Novel laris karya Ratih Kumala seketika ramai diperbincangkan setelah nama Dian Sastrowardoyo yang muncul di lembar-lembar awal novelnya memerankan sosok Jeng Yah. Dasiyah. Perempuan yang sebenarnya sangat berdaya namun haus akan validasi karena ia hidup ditengah-tengah tradisi patriarki yang sangat kuat. Sudah nonton series yang masuk peringkat 10 besar platform streaming global Netflix ini ?
Episode pertama Gadis Kretek langsung membuat dahi berkerut. Ada apakah gerangan, sehingga tokoh generasi ketiga dari Rumaisya-Idrus keluar di awal ? Sementara dalam novel ia hanya sekilas saja muncul di akhir cerita. Ternyata memang dialah, Arum Cengkeh, yang bertugas menjadi penyambung cerita para pengusaha peracik sigaret kretek asal Kota M yang sepertinya Muntilan.
Baik series atau novelnya masing-masing punya kelebihan sendiri, termasuk dalam menginterpretasikan sang tokoh. Jika dalam novel kita diajak mengetahui akar permulaan perseteruan Pak Idrus dan Pak Jagad sejak jaman Jepang, maka dalam novel kita akan merasakan perseteruan kedua senior tersebut melalui kisah cinta Dasiyah bersama Suraya.
Novel Gadis Kretek merupakan karya Ratih Kumala setebal 274 halaman yang dicetak pada 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama. Nyonya Manten harus antrian panjang saat membaca novel ini di aplikasi ipusnas. Ternyata janra novel sejarah banyak peminatnya yah.
Dasiyah dalam novel digambarkan menjadi peracik saus sejak belia. Bagi penikmat tembakau pastilah akrab dengan saus atau wur. Fungsinya sebagai penguat dan penstabil rasa. Kini umumnya sudah diekstrasi menjadi cairan. Wur terdiri dari rempah (cengkeh, kemukus, kapulaga, klembak, menyan, pala, jinten, dll) dan bisa pula ditambah buah-buahan.
Beda versi Novel dan Series
Racikan wur milik Jeng Yah dalam novel digambarkan khas seperti mengandung jambu klutuk (sementara dalam series identik dengan mawar). Perempuan visioner. Punya mimpi dan ingin memiliki usaha kreteknya sendiri namun sayangnya kurang luwes dalam bersosialisasi. Perkenalannya dengan Raya di pasar malam mengantarkannya pada kisah cinta pertama yang cenderung lurus dan malu-malu, kurang greget. Masalah yang dihadapi Jeng Yah justru insecure-nya Suraya saat disebut 'begja' dapat Jeng Yah padahal tadinya hanya buruh Pak Idrus. Raya merasa harga dirinya terinjak.
Sementara kisah tragis mendekam dalam penjara justru dialami ibu Jeng Yah - Rumaisya - jauh sebelum Dasiyah lahir. Pun adegan percintaan yang "menggebu" itu justru dilakoni orang tua Dasiyah dengan latar belakang kecemburuan Idrus yang menyesakkan. Plis deh ya mas mas, enggak ada bagusnya loh ngasih performa oke kalau cuma abis ketemu rival !! Nah dalam series, peleburan dua kisah perempuan ini menghadirkan cerita yang dramatis. Dan keduanya menarik. Sama-sama mengangkat isu feminisme. Terbukti mereka memiliki Gadis Kreteknya masing-masing.
Bersetting utama paska kemerdekaan, baik novel maupun seriesnya memberikan kita banyak gambaran rentetan peristiwa yang terekam dalam sejarah. Mulai dari keterpurukan ekonomi, keberadaan partai terlarang hingga tokoh yang dieksilkan. Kisah yang kadang membuat kita ingin menutup lembaran sejarah yang ada saking pilunya.
Kiri ke kanan : Rumaisya, Rukayah, Dasiyah dan Idrus. Gambar diunduh dari instagram kamila andini.
Akhir cerita memang berbeda antara novel dan series, tapi keduanya menarik. Jadi walaupun sudah membaca novelnya, tidak semua terspoiler kok. Banyak kejutan (meski kadang ada agedan dalam series yang justru jadi melemahkan karakter utama dan rating 13+ yang mengganggu). Novelnya akan membantu kita mengenal beberapa latar cerita yang tak terekam dalam kamera.
Namun diluar itu, gambaran akan gudang mbako, rigen, kain wiron, kebaya menjadi sebuah nostalgia yang indah. Meski bukan gadis kretek, Nyonya Manten ini pernah berlama-lama dihadapan ladang tembakau di salah satu kaki gunung di Jawa Tengah. Aromanya cukup untuk menghalau kekesalan saat bersebelahan dengan perokok. Dalam otak menyusupkan sebuah instrumen lawas dengan mata yang terjebak dalam gambaran waktu melambat. Dan series Gadis Kretek sedikit membawa nuansa tersebut dengan menawarkan lagu bergaya oldies di kelima episodenya.
Lagu Tema Gadis Kretek the Series
Sepakat "Kala Sang Surya Tenggelam" adalah pilihan magis yang tepat disandingkan dengan kisah yang menuntut kita merenung. Dinyanyikan oleh Nadin Amizah, lagu yang semula dipopulerkan Chrisye sang legenda musik Indonesia ini menjadi lebih menggambarkan sosok Jeng Yah. Tak berlebihan jika ini dipilih sebagai lagu pembuka. Dan mari kita runut beberapa lagu tema di setiap episode yang kaya warna.
Di awal cerita dalam setting yang berganti-ganti antara era 2000 dan 1960, kita disuguhi karya yang tak lagi asing. Rindu Lukisan karya Ismail Marzuki. Menariknya ini dinyanyikan ulang dengan gaya yang lebih kekinian. Lagu ini muncul bersama rangkaian aktivitas pabrik kretek yang memunculkan aura legendaris.
Sementara karya-karya indie yang cukup hip pun terdengar di episode awal yang masih penuh tanda tanya, diantaranya : "Runtuh", "Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa" hingga yang paling menghentak saat kemunculan Suraya adalah "Dimana Merdeka" milik Kelompok Penerbang Roket. Sepertinya teriakan Coki dalam lirik "Dimana mereka, mereka yang beda. Apa masih ada yang merdeka?" menggambarkan kebebasan di mata Dasiyah yang tertangkap retina Suraya. Walaupun memang terinspirasi Led Zeppelin yang beken di tahun 60-an, sayangnya Nyonya Manten agak sedikit terganggu nih sama pemilihan lagu KPR untuk adegan ini.
Chrisye dari tangkapan layar youtube musik video Kala Sang Surya Tenggelam ciptaan Guruh Soekarno Putra.
Episode selanjutnya, dimana permasalahan utama mulai terlihat jelas, sepertinya Noh Salleh menjadikan "Sang Penikam" menjadi lagu mafia paling indah disini. Apalagi lagu ini terdengar saat Raya menyelamatkan catatan Dasiyah yang tercecer. Entah mengapa suka aja dengan part ini. Mungkin karena hubungan toxic keduanya belum begitu terasa pada episode ini. Di bagian lain terdengar keroncong "Setangkai Bunga Mawar" hingga "Santai" by Nona Ria.
Cerita kemudian banyak mengalihkan emosi ke era 2001, dimana putra bungsu Suraya yaitu Lebas dan Arum mulai goncang dengan kenyataan yang diperoleh dari surat-surat lama Romo Raya dan Bude Yah. Kekagetan makin terasa begitu mendengar suara legendaris Chrisye menyanyikan "Kala Surya Tenggelam". Belum lagi Sore hadir dengan "Pergi Tanpa Pesan" ciptaan Leo Masengi. Wah ! Emosional sekali soundtracknya.
Meski tidak semua lagu Nyonya Manten kenal, namun sepertinya lirik menjadi pertimbangan besar dalam menempatkan lagu tema. Memang dalam penggambaran adegan lawas unsur keroncong lebih utama hadir dalam suasana bahagia. Namun ketika adegan menjadi emosional, sepertinya karya-karya indie yang dominan minim instrumen dengan lirik puitis namun mudah dipahami oleh telinga muda.
Jadi bagaimana, di adegan mana Nyonya dan Tuan bisa ikut bersenandung ? Sepertinya usia menentukan.
Daftar Lagu Tema Series
Berikut lagu tema series Gadis Kretek :- - "Kala Sang Surya Tenggelam” - Nadin Amizah
- - "Kala Sang Surya Tenggelam" - Chrisye
- - “Kereta Ini Melaju Terlalu Cepat” - Nadin Amizah
- - “Kau Rumahku” - Raissa Anggiani
- - “Dimana Merdeka” - Kelompok Penerbang Roket
- - “Rindu Lukisan” - Caldera ft Rei Naldy
- - “Setangkai Bunga Mawar” - Netty
- - "Bandar Jakarta” - Sri Hartati, OGP
- - “Anything You Want” - Reality Club
- - “Runtuh” - Feby Putri ft Fiersa Besari
- - “Selamat Tinggal” - Daramuda, Rara Sekar dan Sandrayati Fay
- - “Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa” - Frau
- - “Sang Penikam” - Noh Salleh
- - “Santai” - NonaRia
- - “Cita-Cita” - Monita Tahalea
- - “Tiga Dara” - Aimee Saras, Aprilia Apsari dan Bonita
- - “Pergi Tanpa Pesan” - Sore
- - “Lonely Holiday” - Alien Child



Komentar
Posting Komentar