One Piece the Series
Ore wa Monkey D'Luffy
Identitas remaja yang mengatakannya cukup mudah dikenali. Vest merah dan topi jerami. Serta tengil namun penuh ketulusan. Bersama sahabat-sahabatnya, bocah ini berhasil mewujudkan mimpinya menjadi bajak laut yang paling disegani.
Bagi penikmat One Piece (eh, foto diatas tangkapan layar mangaplus ya), tentulah perjalanan Luffy menuju GrandLine bukanlah hal asing. Komiknya sendiri sudah terbit sejak 1997. Karya Eiichiro Oda ini bahkan dijadikan anime yang tayang di Indonesia sejak tahun 2000. Hanya setahun dari negara asalnya, Jepang. Salah satu penikmatnya kah ?
Pemegang rekor manga terlaris dalam sejarah ini menyajikan adventure, fantasi dan humor segar yang dapat terus diterima lintas generasi. So, enggak aneh jika medianya jadi bermacam. Mulai dari manga, anime series, OVA, film anime sampai yang terakhir adalah live action series. Wah !
Diunduh dari wallpapersden ya ini.
Series Live Action
One Piece Live Action tayang perdana 31 Agustus 2023 yang berisi delapan episode. Dengan durasi yang padat sepertinya tidak mungkin juga akan merangkum ribuan seri manga disitu.
Dan benar saja, ini adalah season 1 yang mengisahkan awal Monkey D'Luffy berkiprah sebagai bajak laut. Untuk meraih itu, ia harus berlayar. Mencari kru, mendapat Going Merry, bertemu banyak bajak laut serta dikejar-kejar marinir.
Luffy lalu bertemu Roronoa Zoro, Nami, Usopp dan Sanji. Pengenalan awal per karakter dan latar belakang kehidupannya terlihat cukup membantu bahkan bagi yang belum pernah membaca manga ataupun menonton animenya. Mungkin karena untuk pasar global ya. Ramah sekali untuk penggemar baru.
Talent yang beradu akting disini cukup menarik. Meski jujur saja dari kesemua hanya Mackenyu Arata yang tidak asing karena kebiasaan nonton live action. Dia ikutan di Rurouni Kenshin live action kan.
Namun tak bisa dipungkiri, justru Iñaki Godoy terlihat paling menarik sebagai kapten bajak laut topi jerami. Muka anak seni teater ini cukup tengil sebagai Luffy. Konon, ia prioritas belajar gesture dan "senyuman lebar aduhai" Luffy yang khas.
Adegan ini berbeda dengan versi live action. Pun termasuk cara perpisahan Sanji-Zeff, Usopp yang hadir minus 3 bocil ajaibnya, dan sendal Luffy. Ups !
Bagi penikmat live action pasti paham jika tidak semua cerita dan gambaran tokoh akan sama persis dengan anime. 100 episode jadi 8 itu pasti padat dan butuh bridging yang manis kan. Tapi tenang, itu tidak mengurangi esensi cerita kok. Sepertinya kalau bukan Nakama garis keras akan bisa menerima kewajaran ini ya.
Ost One Piece the Series
Theeenn, bagaimana dengan "WE ARE" yang ikonik itu ? Sepertinya beda lisensi antara anime dan soundtracknya membuat kita tak mendengar We Are muncul sebagai opening theme. Tapi jangan khawatir, karena versi intrumental terbarunya kita dengar di episode 4 dan 8. Aaahh, menyenangkan sekali kembali mendengar melodi ini.
Diunduh dari sites pribadi belousova-ostinelli
Sonya Belousova dan Giona Ostinelli didapuk mengerjakan lagu tema dari One Pice live action. Pasangan komposer ini menyusun tema besar per episode. Mulai dari yang lugas, dinamis, dramatis, jazzy, ngeblues sampai cinematic.
Per karakter baik protagonis maupun antagonis memiliki scoring yang cukup khas. Luffy yang petakilan penuh optimis menjadi semakin hidup dengan dawai Eropa hurdy gurdy.
Sementara Nami yang menyembunyikan emosinya terdengar menghanyutkan dengan flute yang kerap mengiring langkah.
Bagaimana dengan Usopp ? Wah si 'pembual' ini semakin menarik dengan ukulele. Sedangkan Sanji yang classy, seru juga diiringi jazz-funk fusion selama di Baratie.
Zoro ? Wah, meski awalnya merasa Arata terlalu lembut untuk jadi Zoro, tapi eksyen koreo dengan 3 pedang yang dimainkannya itu jadi makin oke dengan sentuhan etnik Asia-Eropa. Sebut saja ada Bansuri si seruling India-Nepal, frame drum yang jadi mengingatkan pada Taiko hingga alat musik tiup Armenia yaitu Duduk.
Pada saat adegan pertarungannya dengan Mihawk, istrumen tersebut diatas berpadu dengan gitar flamenco yang berasa matematis ala ala Tim Henson gitu. Ada djent-djent nya. Dan benar saja ternyata flamenco itu adalah scoring untuk Mihawk yang turut dimainkan oleh virtuoso muda Marcin Patrzalek. Dia emang spesialis gitar akutik, flamenco dan fingerstyle.
Total 79 track yang digarap Sonya dan Ostinelli. Opening versi live action memang tidak memilih We Are, namun sepertinya Wealth Fame Power pilihan yang oke.
So, rasanya tidak berlebihan ya jika kemudian Nyonya Mantèn memilih ini sebagai series kedua yang ditonton sampai habis setelah Kamen Rider Black Sun. Jangan-jangan selepas ini jadi hobi nonton series nih. Apalagi mendengar Season Two dalam proses produksi.
Alaamaaakk, akankah nonton lagi ?




Komentar
Posting Komentar