Novel Dua Belas Pasang Mata

Kisah Guru Ditengah Dampak Peperangan

"Jangan 'mati terhormat'. Pulanglah dengan selamat" (hal.189) 

Ucapan Koishi Sensei ini bukan tanpa alasan. Dampak peperangan membuatnya tegas mengatakan hal itu kepada para mantan muridnya, meski ditentang putranya sendiri.

二十四 の 瞳 atau Dua Belas Pasang Mata merupakan novel terjemahan karya Sakae Tsuboi. Perempuan kelahiran 1899 ini mulai menggeluti dunia sastra sejak 1925. Karyanya didominasi tema kehidupan sosial dan tokoh anak-anak.

Dua Belas Pasang Mata oleh Sakae Tsuboi ini merupakan terjemahan dari novel Jepang berjudul Nijushi no Hitomi. Di Indonesia diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Buku dalam foto merupakan cetakan kesebelas tahun 2022. Memiliki 248 halaman.

Saat itu, Dua Belas Pasang Mata menjadi salah satu novel anti perang meski tak pernah ada bahasan cara menghentikan perang. Namun dampak yang dihadapi anak-anak suatu pedesaan miskin membuat kita berpikir panjang akan buntut kengerian perang. 

Kepolosan mereka membuat kita tergelak dan terharu sekaligus. Menghangatkan hati. Tak berlebihan rasanya jika kemudian karya ini menjadi best seller pada 1952. Dan diadaptasi menjadi sebuah film pada dua tahun setelahnya.

Sebelum pecah Perang Dunia II, banyak peristiwa yang telah dialami Hisako "Koishi" Oishi, seorang perempuan muda yang berprofesi sebagai guru. Beberapa bulan usai pemilu pertama di 1928, pada hari pertamanya mengajar, orang-orang memandangnya terlalu kebarat-baratan. Bersepeda dan mengenakan setelan barat. Padahal Oishi hanya memodifikasi kimono milik orang tuanya yang telah lapuk agar dapat dikenakan kembali.

Oishi ini anak tunggal. Ayahnya meninggal di medan perang saat ia berusia 3 tahun. Namun bukan berarti Oishi anak seorang tentara. Adalah hal yang lumrah bagi setiap keluarga mengirimkan seorang laki-laki untuk ikut berperang. Dan pelaut Koishi, ayahnya pun melakukan itu.

Dalam kondisi ekonomi, keamanan hingga pemerintahan yang tidak stabil seluruh rakyat mau tidak mau harus bekerja keras demi bertahan hidup. Oishi memang bercita-cita menjadi guru sejak awal. Namun tak disangka jika murid pertamanya berasal dari Desa Tanjung yang dikenal berkarakter sulit.

Salah satu adegan dalam film Nijushi no Hitomi yang diperankan oleh Hideko Takamine sebagai Oishi Sensei. Foto diunduh dari asianmoviepulse.com

Murid pertamanya berjumlah 12. Kelima murid lelakinya bernama Sonki, Tonki, Takeichi, Nita dan Kitchin. Sementara murid perempuannya masing-masing dipanggil dengan Matchan, Miisan, Sanae, Fujiko, Kotoe, Masuno dan Kotsuru

12 Murid 

Anak-anak ini telah terbentuk dari pengalaman orang tuanya yang menderita akibat perang. Mereka begitu tertutup dan kurang mementingkan dunia pendidikan. Namun ternyata mereka saling memberikan warna baru dalam keterbatasan. 

Oishi menjadi begitu dicinta Nita dkk. Terlihat dari bagaimana perhatian anak didiknya itu saat Oishi mengalami kecelakaan akibat mereka "jahili" hingga tidak bisa mengajar.

Paham ultranasionalisme yang digaungkan mengantarnya menjadi janda "pahlawan". Dua anak lelakinya digadang-gadang jadi tentara saat cukup umur. 

Maka tak mengherankan jika Oishi bersorak ketika putra sulungnya berkata bahwa negaranya kalah perang. 

"Mulai sekarang, kau bisa benar-benar bersekolah, seperti seharusnya anak-anak. Ayo, kita makan siang." (hal.198) 

Dua belas anak kesayangannya pun tak luput dari derita. Ada yang buta bahkan mati muda di medan perang, ada yang harus dijual orang tuanya demi bahan pangan, ada pula yang sakit parah tanpa pertolongan medis. 

Pun anak bungsunya, perempuan satu-satunya meninggal. 

Perang sudah usai, tapi tetap saja Yatsu meninggal gara-gara perang. (hal. 206)

Memang benar, peperangan hanya bisa melahirkan duka lara.

Menariknya novel ini adalah tentang semangat hidup, pantang menyerah, adaptif hingga kebersamaan yang tercermin pada hampir semua tokoh. Meski dalam balutan yang cukup sentimentil ya. 

Nggak sampai nangis sih, hanya saja kerap berkaca-kaca. Karena adakalanya teringat bahwa pasca peristiwa Hiroshima Nagasaki 78 tahun silam, dunia pendidikan adalah prioritas utama untuk membangun kembali Jepang yang luluh lantak. Jadi pasti ada banyak Koishi Sensei yang berjibaku untuk kemudian menjadikan negaranya maju seperti saat ini. Kan, jadi terbayang dunia pendidikan kita. 

Komentar

Popular

Funiculi Funicula

Mau Berbagi Suami (Lagi) ?