#Museum Travelogue

Berbeda dari pantai yang banyak memiliki ulasan, keberadaan museum cenderung terabaikan. Maka, adanya #Museum Travelogue karya Ajeng Ayu Arainikiasih benar-benar membantu.

Travelogue

Mendengar kata travelogue, tentu saja kita langsung akan mengaitkannya dengan catatan suatu perjalanan. Lengkap dengan deskripsi sampai tetek bengek oklak-aklek yang menunjukkan ada kesan pribadi didalamnya. 

Meski Nyonya Manten bukanlah seorang museum passionate, tapi museum jelas memiliki daya tarik berbeda melalui koleksinya. Memang sih mayoritas museum yang pernah dikunjungi adalah tipe colonial museum. Artinya cenderung pasif dengan tujuan memamerkan koleksi dan informasi official.

Ajeng Ayu Arainikasih selain seorang dosen, ia adalah founder Museum Ceria. Latar belakang pendidikannya memang terkait museum. Tak heran jika dua seri museum travelogue karyanya ini punya konten berbeda. Bukan seperti first impression dari pengunjung anak sekolah yang rombongan keliling dan mencatat keterangan satu orang pemandunya. 

Museum Travelogue banyak membahas tentang pengelolaan museum. Namun dengan penyampaian yang ringan dan seperti saat membaca materi dasar permuseuman. Karena tanpa sadar jadi dapat melihat pola-pola modern dan post-modern museum di luar Indonesia. Dan bisa banget dicontoh oleh museum milik pribadi bahkan dengan budget minimalis.

Nyonya Manten menamatkan dua seri Museum Travelogue melalui aplikasi perpustakaan digital, ipusnas. Berbeda dari kebiasaan saat membaca jenis travelogue, kali ini Nyonya Manten cukup bersemangat mencatat hal-hal menarik dari perjalanan Mbak Ajeng ini. Sebagian terangkum dalam tulisan Nyonya Manten kali ini.


#Museum Travelogue Australia

Versi cetak #Museum Travelogue Australia diterbitkan Stiletto Book pada 2018 silam. Buku setebal 202 halaman ini berisi perjalanan penulis ke berbagai museum saat mengenyam pendidikan di Univeristy of Adelaide. Ia adalah Master dari program studi Art History Curatorial and Museum Studies.

Tak heran di dua bukunya ini Ajeng bisa menyoroti managemen museum, tata pamer, program publik hingga pemasaran museum. Untuk seri Australia ini, entah mengapa rasanya museum disana jauh lebih teknis. 

Pengelola museum di Australia tidak sekedar bermain aman. Bukan hal aneh, saat mereka menyajikan pameran multi perspektif, menjamurnya penggunaan walltext berbentuk flip hingga koleksi berbasis pendekatan parsipatoris. Nggak heran museumnya benar-benar bisa jadi tujuan destinasi keluarga nih. 

Bahkan museum kecil dan milik pribadi pun tetap bisa hidup disana. Punya relawan pula. Mereka melakukan semua pekerjaan di museum mulai dari bersih-bersih sampai menjadi guide. Tanpa dibayar. Dan hebatnya, safety tetap diutamakan. 

Poin utama "create, connect & share arround content" menumbuhkan minat terhadap museum. Bahkan tidak lagi dibutuhkan iming-iming hadiah untuk mengikuti program publik museum. Tidak ada tuh, lomba berhadiah di sana. Wong setiap di kunjungan selalu dapat hadiah pengetahuan dan bisa berkreasi. 

#Museum Travelogue Asia

Setahun berselang #Museum Travelogue Asia terbit pada 2019. Dengan halaman sejumlah 293, kita akan melihat museum di negara tetangga yang... rasanya kok lebih "menjual" ya ? 

Perasaan tersebut diatas muncul, karena sebagai sesama negara Asia, kita punya pola budaya yang sama. Tetapi bagaimana masyarakatnya dalam memaknai budaya tidaklah demikian. Mereka lebih terbuka dan senang eksplor.

Dari travelogue ini diketahui museum Singapura cenderung senang dengan pengalaman multisensory. Sementara di Jepang, museumnya inklusif ya, bisa memperhatikan kebutuhan semua orang untuk mengaksesnya. Taiwan, Korea hingga Uni Emirat Arab pun serupa. 

Meski keterlibatan masyarakat di Asia belum seperti Australia dalam pengelolaan museum, tapi secara konsep memang sudah sama-sama keren sih

Kedua buku ini memang banyak membuka mata tentang museum. Penyampaian yang sederhana dan santai membuat tak terasa ada sisipan materi-materi perkuliahan disana. Minusnya, gambar ilustrasinya agak kurang banyak saja sih. Karena travelogue semacam ini nggak bisa sembarang diimajinasikan sendiri yah. 

Bagi yang tengah belajar materi permuseuman, kedua buku ini rekomended.

Komentar

Popular

Funiculi Funicula

Mau Berbagi Suami (Lagi) ?