Novel Jepang "Deru Gunung"
Butuh waktu lama untuk menamatkan bacaan novel berjudul Deru Gunung (judul asli : 山の音 Yama no Oto, 1949-1954). Karya peraih Nobel Sastra, Yasunari Kawabata ini memiliki seting di kota asalnya yaitu Kamakura.
Tema Keluarga
Alurnya cenderung lambat dan tanpa riak. Diawal kita disuguhi percakapan mengenai kegelisahan akan mimpi bertemu orang-orang yang sudah meninggal.
Eh ?! Rasanya tidak asing. Bukankah Bapak Ibu dirumah pun kerap bercerita ini ? Mimpi bertemu yang sudah meninggal dan diajak untuk bergabung. Apakah saat usia memasuki 60 tahun mimpi demikian itu normal ?
Shingo Ogata bermimpi diberi mie oleh kawannya yang sudah meninggal. Itu hanya satu dari sekian mimpi serupa. Shingo telah berusia 62. Istrinya yang bernama Yasuko setahun lebih tua, namun tampak lebih awet muda. Di usia tersebut, Shingo masih aktif menjalankan perusahaannya dibantu Shuichi Ogata sebagai penasehat.
Deru Gunung karya Yasunari Kawabata versi terjemahan Bahasa Indonesia dicetak pada 2016. Novel setebal 376 halaman ini juga pernah diadaptasi dalam sebuah film hitam putih di Jepang pada tahun 1954. Wah, bisa nonton dimana ya ?
Konflik Mertua dan Menantu
Kembali ke cerita dalam novel. Tak hanya berkantor yang sama, bapak-anak Ogata ini pun masih tinggal satu rumah dengan pasangan masing-masing. Shingo, Yasuko, Shuichi dan Kikuko kerap bersentuhan di keseharian. Bukankah banyak diantara kita mengalami hal ini. Tinggal bersama orang tua atau mertua dan bergantung secara finansial pada mereka. Sungguh jangan terus menerus memaklumi hal seperti ini. Kecuali kondisi mental kita sehat-sehat saja.
Cuplikan film Yama no Oto diunduh dari website database film asal Cekoslovakia, csfd. Bisa menduga siapa saja kan tokoh dalam frame ini ?
Pernikahan Shingo dan Yasuko bukanlah impian keduanya. Takdir tak membawa mereka mensyukuri kehadiran satu sama lain. Ini berdampak pada rangkaian peristiwa yang dialami kedua anak mereka. Shuichi dan Fusako.
Putri keluarga Ogata, Fusako kembali ke rumah orang tuanya secara mendadak. Dibawa serta kedua anaknya yang masih kecil. Sementara suami yang didapatnya dari hasil perjodohan, di kemudian hari dikabarkan melakukan percobaan bunuh diri dengan simpanannya.
Kondisi demikian tak membuat Shingo memberikan perhatian pada Fusako. Baginya, anak perempuan terbaik di dalam rumah adalah Kikuko. Karena gambaran perempuan ideal di Jepang pasca Perang Dunia II adalah sabar, penurut, pemaaf dan lembut.
Kikuko memenuhi syarat hal tersebut. Apalagi ia serupa reinkarnasi kakak perempuan Yasuko atau saudara iparnya yang tidak lain merupakan orang yang dicintai Shingo. Namun bagi Shuichi, istrinya tampak kekanakan dan pasif. Ia tak suka perempuan pasif terutama untuk kehidupan seksualnya (satu kebiasaan yang ternyata diturunkan oleh Shingo).
Shuichi diketahui banyak bersenang-senang di luar rumah. Termasuk dengan sekretaris perusahaannya. Namun yang terparah adalah hubungannya dengan Kinu. Meski tak secantik Kikuko, ia tampak begitu menarik. Ia mandiri dan berdaya. Apalagi Kinu juga merupakan korban ditinggal mati suaminya yang berperang. Mungkin hal itu pula yang merekatkannya pada Shuichi yang juga mengalami trauma usai berperang.
Permasalahan menjadi semakin pelik saat Kinu mengandung bersamaan dengan Kikuko. Perasaan berlebihan pada Kikuko, membuat Shingo bergerak sendiri menyelesaikan permasalahan itu. Tak disangka semua semakin diluar kendalinya.
Mengapa Kikuko aborsi ? Apa pula alasan Kinu meninggalkan Shuichi dengan tetap mempertahankan kehamilannya ? Pahamkan Shuichi akan hasil polahnya ? Atau justru campur tangan Shingo secara diam-diam yang mengakibatkan semuanya ?
Duduklah dengan tenang dan baca lembar per lembar tanpa perlu terburu menyelesaikannya. Membaca "Deru Gunung" ini serasa melihat keseharian di sekitar kita. Kokohnya pemikiran konvensional dan kuatnya terjangan modernisasi menjadikan kebingungan orang yang hidup didalamnya. Keluarga Ogata adalah salah satunya,... (selain kita mungkin).
Usai membaca novel ini tak perlu terburu mencari kontrakan untuk memisahkan diri dari mertua jika kondisi tak memungkinkan. Namun pastikan selalu batin dan mental kita sehat untuk hidup bersama orang-orang di sekitar kita. Hidup harus terus berjalan kan.


Komentar
Posting Komentar